Konser Kemanusiaan dan Etika Solidaritas Bangsa
Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D. (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)--
BACA JUGA:Indonesia dan Diplomasi Moral Dunia
BACA JUGA:Sosok Mohammad Nuh, Kandidat Pjs Ketua Umum PBNU dengan Pengalaman Komprehensif
Perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan skala bencana, sementara dampaknya sering kali menembus batas administratif.
Karena itu, penanganan bencana tidak bisa lagi dilakukan secara sektoral.
Ia membutuhkan ekosistem kepedulian yang berkelanjutan—dari tahap mitigasi, respons cepat, hingga pemulihan jangka panjang yang memulihkan martabat warga terdampak.
Dalam ekosistem tersebut, setiap aktor memiliki peran strategis.
Kampus berkontribusi melalui riset, penguatan kapasitas masyarakat, dan pengiriman relawan terdidik. Kementerian memastikan arah kebijakan, koordinasi lintas lembaga, dan legitimasi negara.
Masyarakat, pada saat yang sama, tidak ditempatkan sebagai objek bantuan semata, tetapi sebagai subjek yang aktif, berdaya, dan memiliki pengetahuan lokal.
BACA JUGA:Langkah Bijaksana Syuriah dan Rais Aam PBNU
BACA JUGA:Diplomasi Tangan di Atas: Menguatkan Peran Global Indonesia
Gotong royong baru inilah yang membuat solidaritas tidak berhenti sebagai empati sesaat, tetapi menjadi kekuatan sosial yang berkelanjutan.
Belajar dari Musibah
Musibah selalu menyisakan pelajaran yang tidak tertulis di buku teks.
Ia memaksa manusia berhenti sejenak dari rutinitas, menoleh ke sekitar, dan bertanya tentang makna hidup bersama.
Salah satu pelajaran terpenting adalah kesadaran bahwa ukuran kemanusiaan tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa besar yang kita bagikan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: