Nilai TKA Rendah: Saatnya Pembenahan Sistemik Pendidikan, Bukan Menyalahkan Guru
Munasprianto Ramli Ph.D (Direktur Abak Academy, Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)-Istimewa-
Praktik ini juga lazim diterapkan di berbagai negara sebagai bagian dari monitoring dan evaluasi pendidikan serta rujukan seleksi perguruan tinggi, bukan sebagai penentu kelulusan.
Dengan posisi tersebut, TKA seharusnya disambut secara positif dan dimanfaatkan sebagai dasar perbaikan mutu pembelajaran.
Namun demikian, ketika hasil TKA SMA diumumkan, publik dikejutkan oleh capaian yang relatif rendah.
BACA JUGA:Antropologi Kebencanaan
BACA JUGA:Konser Kemanusiaan dan Etika Solidaritas Bangsa
Rata-rata nilai delapan mata pelajaran—matematika, matematika lanjut, bahasa Inggris, bahasa Jerman, bahasa Korea, ekonomi, kimia, dan fisika—berada di bawah angka 40, dengan bahasa Inggris mencatat rata-rata terendah sebesar 24,93.
Sementara itu, hanya dua mata pelajaran yang memiliki rata-rata di atas 70, yakni antropologi dan geografi (PUSMENDIK, 2025).
Kondisi ini menimbulkan reaksi luas di masyarakat dan memicu narasi yang cenderung menyalahkan guru sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.
Pandangan tersebut perlu diluruskan.
Rendahnya nilai TKA semestinya diposisikan sebagai momentum refleksi bersama seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
BACA JUGA:Mendorong Area Studies di Indonesia: Jalan Menjadi Bangsa Besar
BACA JUGA:Transportasi Hijau Bukan Sekadar Opsi, Melainkan Keharusan
Guru memang berada di garda terdepan proses pembelajaran, namun kualitas kinerjanya sangat dipengaruhi oleh sistem yang membentuk, membina, dan mendukungnya.
Tidak dapat dimungkiri bahwa masih terdapat guru yang belum sepenuhnya menerapkan pembelajaran aktif, berpusat pada siswa, serta asesmen yang holistik.
Kemampuan merancang soal kompleks seperti yang muncul dalam TKA juga masih menjadi tantangan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: