Nilai TKA Rendah: Saatnya Pembenahan Sistemik Pendidikan, Bukan Menyalahkan Guru

Nilai TKA Rendah: Saatnya Pembenahan Sistemik Pendidikan, Bukan Menyalahkan Guru

Munasprianto Ramli Ph.D (Direktur Abak Academy, Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)-Istimewa-

Akan tetapi, menempatkan guru sebagai satu-satunya pihak yang disalahkan jelas tidak adil dan tidak produktif.

Dalam konteks kebijakan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memiliki peran strategis dalam merespons temuan TKA ini secara sistemik.

BACA JUGA:Bay Area, Rumah Kedua Diaspora Indonesia: Merajut Kebersamaan, Kreativitas, dan Kepedulian Tanpa Batas

BACA JUGA:Menelusuri Mozaik Islam di Turki

Sinergi antarlembaga di bawah kementerian—seperti Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), Balai Guru Penggerak (BGP), Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (PUSKURJAR), serta Pusat Asesmen Pendidikan (PUSMENDIK)—perlu diperkuat agar kebijakan kurikulum, asesmen, dan pendampingan guru berjalan selaras.

Pendampingan guru perlu dirancang lebih terukur, terarah, dan terpadu, dengan fokus pada perubahan praktik pembelajaran di kelas, bukan sekadar pemenuhan target program atau administrasi pelatihan.

Penguatan desain kurikulum juga menjadi agenda penting.

Struktur pembelajaran di kelas X yang masih terlalu umum berpotensi menghambat pendalaman kompetensi dan pengembangan minat siswa sejak dini.

Penjurusan yang lebih jelas dan bertahap, diikuti dengan peminatan yang lebih spesifik pada kelas XI dan XII, dapat membantu siswa membangun kompetensi akademik yang lebih mendalam dan relevan.

BACA JUGA:Sinergi Baru Akademisi Indonesia dan Turki

BACA JUGA:Kunjungan Delegasi Indonesia ke Hayrat Foundation Istanbul: Menguatkan Islam Wasathiyah dan Kolaborasi Global

Dalam kerangka ini, Balai Guru Penggerak diharapkan memainkan peran lebih nyata dalam mendampingi transformasi pembelajaran, sehingga kebijakan pengembangan guru benar-benar berdampak pada kualitas proses belajar-mengajar.

Selain itu, desain asesmen TKA sendiri perlu terus dievaluasi, baik dari sisi karakter dan kompleksitas soal maupun alokasi waktu pengerjaan.

Soal-soal yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi perlu diimbangi dengan proses familiarisasi yang memadai di kelas serta waktu pengerjaan yang proporsional.

Uji coba internal dan analisis empirik terhadap waktu pengerjaan menjadi langkah penting untuk memastikan asesmen yang adil dan realistis bagi peserta didik.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads