Tanaman Obat, Aromatik, dan Rempah: Mesin Ekonomi Baru 2026
Di tengah pertumbuhan ekonomi global yang cenderung moderat serta meningkatnya tantangan ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat, Indonesia sesungguhnya tengah duduk di atas harta karun ekonomi yang kerap luput dari sorotan arus utama, yaitu tanaman ob-dok disway-
BACA JUGA:Selain PBNU, KPK Dalami Peran PWNU DKI Jakarta dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
BACA JUGA:Denda Rp5.2 Triliun dari Perusahaan Tambang dan Perkebunan Dikantongi Satgas PKH
Capaian tersebut menjadi sinyal jelas bahwa komoditas berbasis tanaman obat, aromatik, dan rempah (TOAR) memiliki momentum struktural yang kuat apabila dikaitkan dengan strategi industrialisasi yang tepat.
Namun demikian, struktur ekspor TOAR Indonesia masih didominasi produk mentah atau setengah jadi. Padahal, permintaan global justru jauh lebih besar pada produk hilir bernilai tambah tinggi, seperti ekstrak herbal terstandar, fitofarmaka, suplemen kesehatan, produk cosmeceutical, serta essential oil premium.
Di sinilah letak peluang strategis Indonesia: menggeser orientasi ekspor dari sekadar volume ke penciptaan nilai tambah. Transformasi ini tidak hanya meningkatkan devisa, tetapi juga memperkuat basis industri berbasis sains, inovasi, dan standar mutu internasional.
Ke depan, tren global menuju gaya hidup sehat dan penggunaan bahan alami diproyeksikan terus menguat hingga 2026, didorong oleh meningkatnya penyakit degeneratif, penuaan populasi dunia, serta preferensi konsumen terhadap produk alami dan fungsional.
Dengan pendekatan hilirisasi yang konsisten, mulai dari pengolahan minyak atsiri berkualitas tinggi hingga pengembangan ekstrak bioaktif, maka nilai ekspor TOAR Indonesia berpeluang meningkat 30–40 persen pada 2026 dibandingkan 2024, bahkan tanpa lonjakan volume produksi.
Ini membuka ruang bagi Indonesia untuk tampil sebagai pemasok bahan baku farmasi herbal terstandar, pemain utama essential oil dunia, serta produsen jamu dan nutraseutikal yang mampu bersaing di pasar global.
BACA JUGA:Promo Indomaret Spesial Akhir Pekan 17 Januari 2026, Minyak Goreng Sovia-Bimoli Cuma Rp35 Ribuan
BACA JUGA:Tawaran 9 Digit! Manchester United Serius Boyong Pablo Barrios dari Atletico Madrid
Branding Global “Herbal dan Rempah Indonesia”
Meski potensinya besar, pengembangan tanaman obat, aromatik, dan rempah (TOAR) Indonesia masih dihadapkan pada tantangan struktural yang serius.
Di tingkat hulu, produksi dan kualitas masih terfragmentasi karena sebagian besar petani beroperasi secara tradisional tanpa standar mutu yang seragam.
Akibatnya, produk TOAR sulit memenuhi tuntutan pasar global yang mensyaratkan traceability, sertifikasi, dan pengendalian mutu yang ketat. Kondisi ini membuat posisi tawar petani lemah dan rantai nilai nasional belum terkonsolidasi secara optimal.
Di sisi hilir, kapasitas industri pengolahan TOAR nasional masih tertinggal. Industri ekstraksi bioaktif, formulasi obat herbal terstandar, hingga kosmetik berbasis bahan alam belum berkembang dalam skala dan teknologi yang kompetitif.
Dibandingkan China dan India, yang telah membangun ekosistem riset, manufaktur, dan pasar domestik yang kuat, Indonesia masih terbatas pada pengolahan sederhana.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: