Menjaga 'Rel' Ibadah, Strategi Besar Kemenhaj di Balik Operasional Haji 2026
Ilustrasi ibadah haji di Tanah Suci, Mekkah.--Pinterest
Di Madinah, misalnya, tantangan utama adalah sinkronisasi waktu check-in hotel dengan kedatangan pesawat yang terkadang lebih awal dari jadwal.
"Potensi masalah harus dimitigasi sejak dini. Jangan sampai jemaah sudah sampai di hotel, tapi kamar belum siap. Begitu juga dengan bagasi, terutama di Madinah yang sistemnya berbeda dengan Jeddah," tuturnya.
BACA JUGA:Sekjen Kemenhaj Ungkap Tiga Indikator Sukses Haji 2026
Aspek krusial lainnya adalah akurasi data katering dan akomodasi. Edayanti menyoroti pentingnya rekonsiliasi data jemaah yang wafat atau dirawat di rumah sakit agar tidak terjadi inefisiensi anggaran negara.
"Satu saja data yang meleset, jika dikalikan jumlah makan dan hari, itu menjadi kerugian negara. Petugas harus teliti memantau mutasi jemaah," tegasnya.
Sementara, fase krusial dimulai pada 25 Mei (8 Dzulhijjah) saat jemaah bergerak menuju Arafah untuk memulai rangkaian Masyair.

Kasubdit Pengembangan Umrah Kemenhaj RI, Edayanti-Dok. Edayanti-
Setelah wukuf pada 26 Mei dan merayakan Idul Adha pada 27 Mei, jemaah akan melakukan Nafar awal atau Nafar Tsani sebelum akhirnya bersiap untuk proses pemulangan.
Kloter pertama dijadwalkan kembali ke Indonesia pada 1 Juni 2026 melalui Jeddah, dan seluruh operasional akan berakhir pada 30 Juni 2026 dengan kepulangan kloter terakhir dari Madinah.
BACA JUGA:Pasporisasi Jemaah Haji: Visa Terbit Selambat-Lambatnya 18 Februari, Kartu Nusuk Lanjut Dibagikan
Menutup arahannya, Edayanti berpesan agar para petugas haji bekerja dengan hati.
"Jangan membuat masalah untuk daerah kerja lainnya. Kita berada di atas rel yang sama. Suksesnya haji adalah sukses negara, dan yang terpenting, ini adalah tentang melayani tamu-tamu Allah," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: