Transformasi Ngambek
Direktur RSUD dr Iskak Tulungagung, dr Supriyanto SpB saat meraih medali emas rumah sakit terbaik di dunia di ajang IHF Award 2019. -Humas RSUD Tulungagung-
Pemimpin transformasional tidak boleh ngambek. Boleh. Setengahnya saja. Pun dokter Supriyanto, si perumus HWW --hospital without wall-- saat dalam proses mengubah RSUD Tulungagung. Ia sempat setengah ngambek. Tidak hanya satu kali.
Misalnya saat usulan perubahan ditolak Bupati Tulungagung. Itu usulan soal sistem honorarium dokter di sana. Dianggap tidak adil sama sekali. Kalau itu besar kecilnya gaji dokter hanya didasarkan umur dan masa pengabdian. Pokoknya lebih tua gajinya lebih besar.
Akhirnya ia pilih mengutamakan praktik sebagai ahli bedah.
Memang itu bisa lebih banyak dapat uang. Tapi tidak bisa memuaskan jiwa pengabdiannya.
Ia pun membentuk tim dokter. Yang senior diminta di depan. Mereka menghadap bupati secara berombongan.
Ide perubahan itu tetap ditolak.
Mereka pun ngambek berjamaah. Ups...agak ngambek. Semua dokter itu minta berhenti. Harus pula dapat persetujuan bupati.
Sambil menunggu respons bupati itulah mereka bekerja sekadar memenuhi kewajiban. Pimpinan RS pun kosong.
Para dokter itu juga ingin Supriyanto diangkat jadi kepala rumah sakit. Juga ditolak.
Di tengah ngambeknya para dokter itulah bupati mau menemui mereka. Tapi tidak mau mengangkat Supriyanto jadi pimpinan mereka. Bupati memilih dokter yang lebih senior. Si senior tidak mau.
Akhirnya Supriyanto merayu si senior: agar mau saja menerima jabatan itu. Si senior akhirnya mau dengan syarat: Supriyanto yang lebih banyak menjalankannya.
Mereka bersetuju.
Itulah awal perubahan. Sistem penggajian dokter diubah. Tidak lagi berdasar panjangnya masa pengabdian tapi berdasar peran, beban kerja, dan prestasi.
Dengan cara itu ternyata bukan saja pendapatan dokter yang naik. Pendapatan rumah sakit pun drastis. Rumah sakit jadi punya kemampuan memperbaiki penghasilan perawat dan menambah peralatan.
Ketika Supriyanto sudah menjadi direktur, ia pernah ngambek lagi. Gara-gara rumah sakit dianggap sudah sudah punya uang jadilah sasaran: dicurigai ada korupsi di dalamnya. Rumah sakitnya digerebek APH. Sehari penuh.
Dokter Supriyanto seperti frustrasi. Sudah kerja keras. Sudah menciptakan sistem agar tidak ada penyelewengan. Sudah berhasil memperbaiki rumah sakit sampai jadi terbaik di Indonesia. Masih juga dituduh korupsi.
Supriyanto pilih "menghilang". Kalau masuk kantor ia takut waktunya habis untuk melayani APH.
Soal APH ia serahkan ke wakil direktur. Ia hanya berpesan: buka saja semuanya. Jangan ada yang ditutupi. Mereka tidak akan menemukan penyelewengan apa pun.
Akhirnya diketahui: pimpinan APH setempat, kala itu, hanya minta jatah sejumlah uang.
Seorang wartawan setempat bersimpati kepada Supriyanto. Ia viralkan peristiwa penggerebekan itu. Heboh. Sampai menteri kesehatan kala itu kaget. Sang menteri pernah ke RSUD itu. Pujian diberikan setinggi langit. Kok ada masalah.
Supriyanto pun akhirnya terbebas dari urusan APH. Ia semangat lagi memajukan rumah sakit daerah itu.
Pun para pemimpin transformasional tidak lepas dari frustrasi. Bedanya: mereka tahu ngambek hanya sebagai taktik. Misi tidak boleh berubah. Tetap teguh memegang keinginan untuk maju --lewat perubahan besar.
Kini Supriyanto menjabat dirut RSCM Jakarta yang begitu raksasa. Baru dua tahun. Proses menjadikan RSCM sebagai HWW baru tercapai 30 persen. Hambatan pasti banyak. Tapi kali ini ia dapat dukungan penuh atasannya: Menteri Kesehatan Budi Sadikin.
Bahkan Supriyanto adalah tenaga ahli menkes. Mereka satu ide. Termasuk dalam hal sistem pendidikan dokter spesialis: hospital base. Bukan university base.
"Ide hospital base datang dari Anda?" tanya saya.
"Tidak. Ide sama-sama. Kan hospital base lebih baik. Dokter bisa sekolah tanpa harus meninggalkan tugasnya. Bisa sekolah sambil tetap dapat gaji," kata Supriyanto yang hari ini dinobatkan sebagai doktor ilmu manajemen kesehatan di Unair Surabaya.
Ngambek adalah salah satu sifat manusia. Dokter itu manusia. Hanya ngambeknya yang beda.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 22 Januari 2026: HWW
Ratna Hermawati
Saya bekerja di RSUD dan tulisan ini seperti cahaya bintang di langit kelam: tentang bagaimana menciptakan sistem kerja RSUD yang bebas dari politik lokal. Kalau ada lokakaryanya saya mau daftar, kalau ada bukunya saya mau beli. Saya sungguh-sungguh ingin belajar. Terimakasih sebelumnya.
Bahtiar HS
Bicara aplikasi di RS Iskak Tulungagung dikerjakan anak IT dari ITS, insya Allah itu adalah kakak kelas 2 angkatan di atas saya. Saya kenal dengan orangnya, karena pernah satu company beberapa tahun. Pernah satu kos: nginap di kantor. Khas anak mahasiswa, cari kos gratisan sambil kerja. Orangnya tinggi. Lebih dari 170 cm. Berkumis. Olah raga paling disukai: sepak bola. Kalau mengendarai mobil suka tidak mengurangi kecepatan pas di tikungan. Kalau saya disopiri dia, lebih baik naik mobil lain. Kalau ada. Atau asal dia bukan yang nyetir. Maunya istirahat di mobil, jadinya malah stress. Pernah disopiri dari Jakarta ke Surabaya lewat pantura. Bisa dibayangkan stressnya saya. Pernah naik jembatan yang sedikit ada gundukan di ujungnya digas saja. Mobil seperti melompat sejenak. Dia ketawa-tawa. Saya yang senep. Saya pernah diminta membantu buat proposal untuk memperluas pemasaran produk RS-nya itu. Tp belum berjodoh. Krn sy sdh bekerja di company lain. Beliau mendirikan perush sendiri. Kalau nggak salah, aplikasinya itu pernah dipakai juga di perhelatan MotoGP di Mandalika. Itu kalau benar yang dimaksud kakak kelas angkatan di ITS itu. Yang anak Informatika itu. Yang angkatan 87 itu. Yang kampung halamannya Tulungagung itu. Tp tinggal di Surabaya, sak wetane UPN itu. Kalau ternyata lain, ya berarti bukan yang saya kenal itu.
Echa Yeni
Suskezmaz,eh "Puskesmas tidak boleh bangga didatangi bnyak masyarakat" Hmm,noted banggett. Pengalaman kreja hmpir 2th di Puskemas dibagian terdepan(dan terluar/ diluar sistim kesehatan tpi tetap saja juga bagian pelayanan_meski narik bayaran 2euan) Jdi isa membayangkan maksut Pak dr.Supriyanto. dulu pas bangunan diperbarui & di+bangunan tingkat, seolah membayangkan, *omah/bangunan kok apik emen,kapan ikut nempatin!?!?,lah kan berarti spti ingin saqit.blom lagi 1 wilayah kecamatan yg berkembang malah yg skitaran
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
##pak Juve.. MBG: ANTARA NIAT MULIA DAN PEKERJAAN RUMIT MBG, Makan Bergizi Gratis, niatnya baik. Sangat baik. Negara hadir sejak pagi. Dari perut anak sekolah. Logikanya jelas. Anak kenyang lebih mudah belajar. Gizi baik, SDM naik kelas. Masalahnya, MBG bukan sekadar bagi-bagi nasi. Ini program logistik nasional. Setiap hari. Tanpa libur. Skala besar. Kalau salah desain, yang gratis bisa jadi mubazir. Yang bergizi bisa jadi basi. Tantangan nya: 1). Pertama: sasaran. Siapa yang benar-benar perlu. Jangan sampai yang sudah kenyang ikut antre. Data menjadi kunci. Bukan spanduk. Bukan seremoni. 2). Kedua: kualitas. Bergizi itu bukan sekadar kenyang. Protein, vitamin, variasi menu. Ini urusan ilmu gizi, bukan sekadar katering. Kalau salah, malah menambah masalah kesehatan baru. 3). Ketiga: rantai pasok. Dapur. Distribusi. Keamanan pangan. Satu titik gagal, efeknya ke mana-mana. Negara harus kuat di manajemen, bukan hanya anggaran. 4). Keempat: dampak ekonomi lokal. Idealnya MBG menyerap petani, nelayan, UMKM setempat. Kalau semua diserahkan ke vendor besar, tujuan gandanya hilang. MBG bisa jadi investasi jangka panjang. Tapi hanya kalau dikelola dengan kepala dingin. Program sosial itu bukan lomba cepat. Yang penting konsisten, tepat sasaran, dan bisa diaudit. Niat baik saja tidak cukup. Di negara besar, niat baik harus tahan uji lapangan.
sigit
Ada apa dengan negeri Q?... Mengapa keberkahan dicabut satu persatu. Tanpa pandang bulu. Mendepak yang bermutu tanpa malu. Hanya demi sesuatu yang tak perlu. Bila uang yang berbicara melulu maka bencana tidaklah berlalu, Satu persatu yang terbaik dipaksa mundur dulu, dibuang dan dikubur agar tidak mengganggu, demi harta dan bibir bergincu. Doa doa terbaik terpanjatkan selalu buat negeri Q, tapi terhalang oleh tikus tikus dibelakang meja dan palu, demi kertas bergambar ratusan ribu yang siap diburu. Rahmat Tuhan seakan berhenti melihat itu.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
DISMorning – 22 JANUARI 2026.. Pagi ini host-nya Pak Suko. Elni absen. Tidak dijelaskan. Tidak perlu juga. Acara tetap jalan. Topiknya Sekolah Rakyat. Programnya Mensos Gus Ipul. Sudah 166 SR diresmikan. Dua puluh enam di Jawa Timur. Angka yang bikin optimistis, sekaligus bikin curiga: benar sasaran atau sekadar rapi laporan. Pak Suko bercerita. Ia sudah keliling SR. Salah satunya di Sidoarjo. Yang paling menarik katanya kurikulum. Tapi Pak Dahlan justru menggeser fokus. Pertanyaan klasik tapi krusial: betulkah murid SR itu yang termiskin dari yang miskin. Kalau calon lebih banyak dari kuota, siapa yang dipilih. Harusnya diranking dari tingkat kemiskinan. Tanpa tes. Karena tes sering menguji yang pintar, bukan yang paling butuh. Pak Suko menjawab, seleksi sudah begitu. Bahkan sampai dijemput. Ini menarik. Dijemput artinya aktif. Bukan menunggu proposal. Bukan lomba cepat-cepatan. Soal kurikulum, Pak Dahlan rendah hati. Bukan ahlinya. Tapi pesannya tajam: SR harus memotong generasi. Memutus siklus lama. Salah satunya dengan merantau. Lingkungan lama sering lebih kuat dari niat baik. Kalau anak Magetan sekolah di Sidoarjo, itu bagus. Entah kebetulan atau desain. Tapi arah pikirnya benar. Kemiskinan tidak selesai dengan bansos. Kata Pak Dahlan, harus pendidikan. Diasramakan. Lama. Tidak instan. Tapi beradab. Diskusi ditutup dengan pengusaha. Pendidikan bisa melahirkan pekerja. Pengusaha lahir dari jatuh bangun. Dari luka. Itu kurikulum paling mahal.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
APLIKASI HWW: TANPA DINDING, TAPI JANGAN TANPA NALAR.. Aplikasinya menarik. Bahkan berani. Dibuat dokter, untuk pasien, dengan alur berpikir medis, bukan alur pikir admin proyek. Itu sudah nilai plus. Prosesnya juga masuk akal: bukan tender asal jadi, tapi kolaborasi dokter–engineer. Algoritma dulu, koding belakangan. Jarang terjadi di negeri form dan SPJ. Menu dan alurnya relatif rapi. Dari keluhan, dipersempit, disaring, lalu disimpulkan. Seperti anamnesis manual, tapi dipaksa disiplin. Pasien diajak berpikir, bukan panik. IGD jadi benar-benar darurat. Yang ringan selesai di rumah. Yang berat ditangani spesialis. Itu esensi HWW. Bisa dinasionalkan? Bisa. Tapi jangan naif. Bukan sekadar copy aplikasi. Harus copy cara berpikir. Tanpa kepemimpinan yang kuat, aplikasi bisa berubah jadi etalase. Indah, tapi kosong. Apalagi kalau mulai “titip menu”. Saran kecil. Pertama, standar nasional algoritma medis, tapi fleksibel lokal. Kedua, audit klinis rutin, bukan hanya audit IT. Ketiga, edukasi publik terus-menerus. Aplikasi pintar akan percuma kalau dipakai dengan cara bodoh. HWW itu bukan soal teknologi. Itu soal keberanian mengurangi ego. Dan itu justru yang paling mahal.
Hendri Ma'ruf
Di tulisan pak Dahlan di penghujung tahun 2025, saya mencatat nama Kaharuddin Djenot sebagai salah satu contoh kesesuaian antara kemampuan pemimpin dengan konteks PT PAL yang sedang dihadapi. Dalam istilah bahasa Inggrisnya dinamai Leader-Context Knowledge Fit. Entah ide siapa yang mendorong penempatan pak Kaharuddin Djenot sebagai Dirut PT PAL. Dan hari ini kita melihat karya monumental (biarpun skalanya dianggap belum besar). Hari ini kita disuguhi berita oleh pak Dahlan Iskan tentang pengangkatan Dr dr Supriyanto sebagai Dirut RSCM Jakarta. Lagi-lagi ini adalah contoh LCKF lagi. Saya senang dan bersyukur bahwa ada orang-orang hebat yang mumpuni yang ditempatkan pada organisasi yang sedang membutuhkan. (Btw, LCKF itu adalah istilah yang saya ciptakan untuk sebuah keperluan tulisan.)
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
PENEMPATAN DR SPESIALIS GAWAT DARURAT DI UGD: APAKAH SUDAH BENAR-BENAR DIJALANKAN? Ilmu gawat darurat sebenarnya bukan ilmu baru. Tapi spesialisnya relatif muda. PPDS Gawat Darurat sudah ada di beberapa fakultas kedokteran besar. UI. UGM. Unair. Unpad. Juga beberapa kampus lain. Jumlahnya belum banyak. Lulusannya masih ratusan. Bukan ribuan. Jadi wajar kalau belum terlihat di mana-mana. Pertanyaannya bukan sekadar sudah ada atau belum. Tapi ditempatkan di mana. Secara konsep, dokter spesialis gawat darurat memang untuk UGD. Bukan untuk bangsal. Bukan untuk poliklinik. Mereka dilatih mengambil keputusan cepat, lintas disiplin, dalam kondisi tidak ideal. Masalahnya, praktik di lapangan sering beda. Banyak UGD masih diisi dokter muda. Fresh graduate. PPDS jaga malam. Dokter spesialis datang kalau dipanggil. Itu warisan lama. Bukan kesalahan dokter mudanya. Tapi kesalahan sistem. Padahal logikanya sederhana. Kasus ringan seharusnya selesai sebelum masuk UGD. Kasus berat justru harus ditangani dokter paling senior di depan. Bukan yang paling junior. RSUD Tulungagung mencoba membalik logika itu. UGD diisi spesialis gawat darurat. Yang ringan disaring di luar. Itu lebih masuk akal. Lebih aman. Lebih jujur secara klinis. ## Jadi pertanyaannya bukan: Perlu atau tidak? Tapi: Berani atau tidak?
Linggar Baero
Dr. Supriyanto ambil spesialis bedah umum karena di daerahnya keahlian ini yang diperlukan oleh masyakat banyak (nb.dgn tinhkat penghasilan rendah). Alasan yg mirip disampaikan oleh 2 orang teman saya yang anak2 mereka akan ambil spesialis. Satu spesialis bedah jantung, yg satunya lagi spesialis urologi. Saya tanya alasannya: pertama; penderita penyakit ini semakin banyak; kedua (beda dgn alasan dgn dr. Supriyanto) mudah praktik di kota besar dan penghasilannya besar. Manusiawi.
Thamrin Dahlan YPTD
Selamat Dr dr Supriyanto Direktuir RSCM. Kepercayaan Menteri Kesehatan kepada Anda untuk menerapkan sistem Hospital Without Wait. RSCM merupakan Top Reveral (rujukan tertinggi/terakhir) Rumah Sakit Seluruh Indonesia. Ibarat kapal besar memang diperlukan seorang nahkoda trampil membelokkan kapal agar mencapai tujuan pelabuhan idaman. Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan ukuran apakah Rumah Sakit mampu berhasil ikut menurunkan angka kematian (mortality). Pasien IGD dalam kondisi kesehatan menurun perlu mendapat tindakan pertolongan cepat dan benar. Dokter dan Perawat tugas di IGD wajib memiliki ketrampilan prima kegawat daruatan ditandai sertifikat PPGD (Penanganan Penderita Gawat Darurat), BTCLS (Basic Trauma Cardiac Life Support) dan BLS (Basic Life Support).. Syukurlah Negara hadir di IGD melalui BPJS Kesehatan. Rakyat tak berpunya tidak perlu lagi kuatir harus menyiapkan "Uang Muka" ketika ke IGD> Dahulu kala menjadi momok bagi orang miskin sehingga banyak pasien tidak sempat tertolong. Dalam kapasitas Purnawirawan Kedokteran dan Kesehatan Polri awak memiliki tanggung jawab moral.Mensyiarkan setiap informasi perkembangan kesehatan kepada sejawat bertugas di semua Rumah Sakit Bhayangkara dan Poliklinik Polres. Alhamdulillah Karumkit Bhayangkara bergelar MARS (Magister Administrasi Rumah Sakit). Terima kasih Bapak Men Kes telah melakukan banyak perubahan sistem Pelayanan dari Promotif, Preventif, Therapeutik, Rehabilitasi. 2 tahun lagi RSCM sukses melesatkan HWW.
Udin Salemo
di negara jiran mantan perdana menteri dijatuhi hukuman 12 tahun dan langsung masuk penjara. kemaren mantan panglima angkatan tentara (panglima tni kalau di indonesia) dan panglima tentara darat (kasad) Malaysia yang sedang menjabat juga sudah ditahan karena tersangkut kasus rasuah. padahal kasad Malaysia itu calon panglima tni-nya Malaysia. ketiga-tiga pejabat di Malaysia itu diseret ke mahkamah oleh kapeka-nya Malaysia (SPRM). walaupun lembaga anti rasuah Malaysia itu berada langsung dibawah perdana menteri, tapi untuk penegakan hukum wewenangnya tak bisa diintervensi perdana menteri. ini baru SUGOOOI... salut untuk kapeka-nya Malaysia. tangkapannya bukan sekelas bupati atau kepala dinas, wkwkwk...
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:

Komentar: 36
Silahkan login untuk berkomentar