Jangan Dianggap Sepele! dr. Desak Ketut N.S. Pramegia Ungkap Tanda Awal Usus Buntu yang Sering Terlewat
Penyebab, Gejala, dan Penanganan Usus Buntu-brgfx-Freepik
JAKARTA, DISWAY.ID - Usus buntu atau apendisitis merupakan kondisi peradangan pada apendiks, yaitu kantong kecil menyerupai jari yang terhubung dengan usus besar di bagian kanan bawah perut.
Meski sering dianggap tidak memiliki fungsi vital, usus buntu dapat menimbulkan masalah serius bila mengalami peradangan dan tidak segera ditangani secara medis.
Apa Itu Usus Buntu?
Dalam dunia medis, usus buntu dikenal sebagai apendisitis, yakni peradangan pada apendiks yang bisa berkembang cepat dan memicu komplikasi berbahaya. Ketika usus buntu meradang, aliran normal di dalam apendiks terganggu sehingga bakteri mudah berkembang dan menyebabkan infeksi.
Penyebab Usus Buntu
Penyebab utama usus buntu adalah terjadinya penyumbatan pada saluran apendiks. Sumbatan ini dapat berasal dari tinja yang mengeras, benda asing, infeksi, hingga kondisi yang lebih jarang seperti tumor, yang kemudian memicu peradangan usus buntu.
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko usus buntu antara lain produksi lendir berlebih yang membuat isi apendiks menjadi kental dan menutup saluran, serta pembesaran jaringan limfoid yang dapat menyumbat lumen apendiks dan memperparah peradangan usus buntu.
BACA JUGA:Gisella Anastasia Sempat Sakit Usus Buntu Sebelum Nonton Konser Taylor Swift di Singapura
Gejala Usus Buntu
Gejala khas usus buntu biasanya diawali dengan nyeri di sekitar pusar yang kemudian berpindah ke perut kanan bawah dan semakin intens seiring waktu. Nyeri akibat usus buntu umumnya bertambah saat bergerak, batuk, atau ditekan.
Selain nyeri, usus buntu juga sering disertai mual, muntah, penurunan nafsu makan, demam ringan hingga sedang, perut terasa kembung, serta kesulitan buang gas atau buang air besar. Pada anak-anak dan lansia, gejala usus buntu bisa tidak khas sehingga membutuhkan kewaspadaan ekstra.
Diagnosis Usus Buntu
Untuk memastikan diagnosis usus buntu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan fokus pada nyeri tekan di perut kanan bawah. Pemeriksaan ini bertujuan menilai tingkat keparahan dan kemungkinan komplikasi dari usus buntu.
Selain pemeriksaan fisik, diagnosis usus buntu dapat diperkuat melalui tes darah untuk mendeteksi infeksi, tes urine untuk menyingkirkan penyakit lain, serta pemeriksaan pencitraan seperti USG atau CT scan guna melihat kondisi apendiks secara lebih jelas.
Penanganan Usus Buntu
Penanganan paling efektif untuk usus buntu adalah operasi pengangkatan apendiks atau apendektomi. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah pecahnya apendiks yang dapat menyebabkan infeksi berat di rongga perut akibat usus buntu.
Operasi usus buntu dapat dilakukan melalui metode laparoskopi dengan sayatan kecil yang memungkinkan pemulihan lebih cepat, atau metode terbuka jika usus buntu telah pecah atau terjadi infeksi luas. Setelah operasi, pasien biasanya diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi lanjutan.
BACA JUGA:Penyebab Usus Buntu dan Pengobatannya
Pencegahan Usus Buntu
Hingga kini, belum ada cara yang benar-benar pasti untuk mencegah usus buntu. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pola makan tinggi serat, seperti konsumsi buah dan sayuran, dapat membantu menjaga kesehatan saluran cerna dan berpotensi menurunkan risiko usus buntu.
Kesimpulan
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: