Soroti Penonaktifan Massal PBI BPJS Kesehatan, Purbaya Sebut Konyol!
Purbaya menjelaskan penonaktifan yang mendadak justru menimbulkan kesan buruk untuk pemerintah.-Istimewa-
JAKARTA, DISWAY.ID-- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merasa geram dengan peristiwa penonaktifan BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Kesehatan.
Sebab, kata dia, kejadian tersebut membuat kementeriannya rugi. Pemerintah kata Purbaya terus mengalokasikan anggaran untuk kuota nasional PBI JKN untuk 96,8 juta, tanpa adanya penurunan alokasi anggaran sedikit pun.
BACA JUGA:Mengenal Thanksinsomnia, Brand Streetwear Lokal Milik Mohan Hazian yang Viral di X
BACA JUGA:Ditutup Melemah, Analis Prediksi IHSG Akan Kembali Bergerak di Zona Merah
Akibatnya, ketika tiba-tiba 11 juta penerima PBI statusnya non aktif, membuat gejolak di tengah masyarakat per Februari 2026.
"Ini yang bikin kejutan. Kalau 1 persen enggak ribut orang-orang, begitu 10 persen, hampir yang sakit tuh hampir semuanya kena tuh dugaan saya ya. Mereka juga banyak yang tidak tahu sudah keluar dari daftar,” kata Purbaya dalam rapat bersama DPR, Senin, 9 Februari 2026.
Ia menilai kebijakan penonaktifan tanpa masa transisi merugikan masyarakat, terutama peserta yang tengah menjalani pengobatan berbiaya besar seperti cuci darah.
BACA JUGA:Menuju Muktamar ke-35 NU: Gus Yusuf Chudlori Sosok Santri Tulen, Magnet Massa, dan Harapan Baru PBNU
BACA JUGA:Link Daftar Mudik Gratis Pemprov Jateng 2026 di Pedamateng, Amankan Kuota Sebelum Kehabisan
Purbaya menjelaskan penonaktifan yang mendadak justru menimbulkan kesan buruk untuk pemerintah.
"Karena tiba-tiba ketika ada yang mau cuci darah tiba-tiba enggak eligible, gak berhak, kan itu kayanya kita konyol, padahal uang yang saya keluarin sama. Saya rugi di situ, uang keluar, image jelek jadinya. Pemerintah rugi dalam hal ini pak," tegasnya.
Purbaya berpendapat seharusnya penonaktifan status PBI itu dilakukan oleh BPJS Kesehatan secara bertahap dengan merata-ratakan tiap tiga bulan jumlah yang akan dikeluarkan dari daftar PBI, bukan langsung serentak seperti bulan ini.
"Jadi ini yang musti dikendalikan ke depan. Kalau angkanya sedrastis begini ya di smoothing sedikit lah, di average 3-5 bulan, terserah. Tapi, jangan menimbulkan kejutan seperti itu," ucap Purbaya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: