Lailatul Qadar, Zakat, dan Spirit Kemanusiaan di Penghujung Ramadan

Lailatul Qadar, Zakat, dan Spirit Kemanusiaan di Penghujung Ramadan

Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)-Istimewa-

Dalam masyarakat modern yang masih dihadapkan pada persoalan ketimpangan ekonomi, zakat fitrah memiliki relevansi yang sangat kuat. 

Berbagai laporan lembaga internasional menunjukkan bahwa ketimpangan distribusi kekayaan masih menjadi tantangan besar di banyak negara, termasuk negara dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil.

BACA JUGA:Tajdid Ekologis NU: Menggagas Teologi Lingkungan untuk Keselamatan Bumi

BACA JUGA:Perjuangan Gagasan: Membangun Identitas Kota Jakarta dengan Kearifan Lokal

Di tengah situasi seperti ini, zakat dapat dilihat bukan hanya sebagai praktik ibadah, tetapi juga sebagai mekanisme distribusi kesejahteraan yang telah diajarkan Islam sejak berabad-abad lalu.

Melalui zakat, Islam menanamkan kesadaran bahwa setiap harta yang dimiliki manusia memiliki dimensi tanggung jawab sosial. 

Harta tidak dipandang semata-mata sebagai milik pribadi, tetapi juga sebagai amanah yang di dalamnya terdapat hak orang lain. 

Prinsip ini menumbuhkan etika kepemilikan yang berbeda dengan logika ekonomi individualistik yang sering kali memisahkan keberhasilan pribadi dari tanggung jawab sosial.

Pada level yang lebih luas, zakat fitrah juga memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat. 

BACA JUGA:Tajdid Tata Kelola NU: Antara Modernisasi, Profesionalisme, dan Kapasitas

BACA JUGA:Koperasi, Ekonomi Indonesia dan Relevansi Gen Z

Ketika umat Islam menunaikan zakat, mereka tidak hanya menjalankan kewajiban agama, tetapi juga berpartisipasi dalam membangun solidaritas sosial.

Praktik berbagi ini menciptakan rasa kebersamaan, mengurangi jarak sosial antara kelompok yang berkecukupan dan mereka yang membutuhkan, serta menegaskan bahwa kehidupan masyarakat harus dibangun di atas prinsip saling peduli.

Momentum Lailatul Qadar yang berdekatan dengan kewajiban zakat fitrah pada akhirnya mengajarkan satu pesan penting: kemenangan Idul Fitri bukan sekadar perayaan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga kemenangan nilai-nilai kemanusiaan. 

Puasa melatih pengendalian diri, mengajarkan empati terhadap mereka yang kekurangan, serta membangun kesadaran bahwa kehidupan tidak hanya berpusat pada diri sendiri.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: