Ekoteologi Didorong hingga Akar Rumput, Dirjen Bimas Buddha: Dharma Harus Berdampak ke Lingkungan

Ekoteologi Didorong hingga Akar Rumput, Dirjen Bimas Buddha: Dharma Harus Berdampak ke Lingkungan

Dirjen Bimas Buddha Kemenag Supriyadi dan Sekwil Sangha Agung Indonesia DKI Jakarta-Banten YM Bhadranatha Thera, saat penanaman ribuan pohon di Vihara Bakti Pramuka Komplek Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Rabu, 1 April 2026-Disway.id/M Purwadi-

“Ini bagian dari sinergitas antara Kementerian Agama dengan badan keagamaan di bawah Bimas Buddha. Kami terus menggerakkan semua pihak yang berkaitan dengan kami di Bimas Buddha, khususnya para badan keagamaan. Kami terus dorong banyak kegiatan-kegiatan ekoteologi yang kemudian sebagian menerjemahkan dengan kata ekodharma," jelasnya.

Menurut Supriyadi, gerakan ekoteologi dalam Buddhisme tidak terbatas pada penanaman pohon, tetapi mencakup berbagai kegiatan berkelanjutan, seperti pemanfaatan eco-enzyme, pengolahan limbah organik, serta penerapan gerakan 3R (reduce, reuse, recycle) di rumah ibadah.

BACA JUGA:Jadwal Promo Tarif Listrik PLN April 2026, Jangan sampai Kelewatan!

BACA JUGA:WFH Seminggu Sekali untuk Swasta Terserah Masing-masing, Tak Harus Jumat!

"Harapan saya bahwa program prioritas Menteri Agama ini juga dapat turun sampai ke level grassroots (akar rumput). Tidak hanya dalam wacana, tapi sampai ke level operasional di masjid-masjid rumah ibadah, dan keluarga," tandasnya.

Supriyadi menjelaskan, konsep ekoteologi menggabungkan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap ekosistem.

Pendekatan ini dinilai penting untuk menumbuhkan kesadaran kolektif dalam menjaga alam.

“Kalau persoalan ekosistem tidak didekati dengan nilai keimanan dan dharma, manusia bisa saja seenaknya memanfaatkan alam. Padahal kerusakan ekosistem yang terjadi saat ini sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia sendiri,” katanya.

Ia menambahkan, melalui pendekatan keagamaan, umat diharapkan memiliki kesadaran untuk merawat dan melestarikan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual.

BACA JUGA:Dugaan Intimidasi 'Brownies Coklat' ke Amsal Sitepu Berbuntut Panjang, Kejari dan Kasi Pidsus Karo Diperiksa!

BACA JUGA:Daftar Sektor Pekerjaan yang Dikecualikan WFH, Jasa hingga Perbankan

Selain itu, Supriyadi juga menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam melanjutkan gerakan pelestarian lingkungan berbasis nilai spiritual.

Ia menilai, kesadaran ekologis di kalangan generasi muda masih perlu ditingkatkan, terutama di tengah gaya hidup instan yang cenderung menghasilkan banyak sampah.

“Kita ingin generasi muda sadar bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Hal sederhana seperti membawa alat makan sendiri atau mengurangi sampah sekali pakai bisa menjadi langkah awal,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Wilayah Sangha Agung Indonesia Provinsi DKI Jakarta dan Banten sekaligus Ketua Panitia, YM Bhadranatha Thera, menyampaikan bahwa kegiatan penanaman pohon menjadi salah satu program utama dalam peringatan 67 tahun pengabdian Sangha Agung Indonesia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: