ADB Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2 Persen, FTSE Russell Pertahankan Status Emerging Market

ADB Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2 Persen, FTSE Russell Pertahankan Status Emerging Market

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan proyeksi ekonomi Indonesia -ist-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan dampak konflik Timur Tengah terhadap perekonomian dunia, Indonesia kembali mendapat pengakuan positif dari dua lembaga internasional ternama.

Asian Development Bank (ADB) dalam laporan Asian Development Outlook April 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil di angka 5,2 persen pada 2026 dan 2027, naik dari realisasi 5,1 persen tahun 2025.

Proyeksi ini berada di atas rata-rata pertumbuhan Asia Tenggara yang hanya 4,7 persen.

BACA JUGA:Airlangga: Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Gelojak Global, Jauh Beda dari Tahun 1998

Sementara itu, FTSE Russell pada 7 April 2026 secara resmi mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dan tidak memasukkan Indonesia ke dalam Watch List penurunan status.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, menyatakan bahwa kedua pengakuan ini menjadi sinyal kuat ketangguhan fundamental ekonomi Indonesia di tengah gejolak global.

“Proyeksi ADB dan keputusan FTSE Russell menunjukkan kepercayaan internasional terhadap kebijakan makroekonomi yang konsisten, permintaan domestik yang tangguh, serta reformasi struktural yang sedang berjalan,” ujarnya.

ADB menyoroti tiga pilar utama ketahanan Indonesia: permintaan domestik yang kuat, inflasi terkendali di kisaran 2,5 persen, serta kebijakan moneter yang terkalibrasi dengan baik.

BACA JUGA:BEI Targetkan 13 Emiten Baru Melantai hingga Juni 2026, Susun Kekuatan Ekonomi Lewat 'Raising Fund'

Pertumbuhan juga didukung konsumsi rumah tangga, pembangunan infrastruktur, dan investasi swasta.

Di sisi pasar modal, FTSE Russell mengapresiasi delapan Rencana Aksi Percepatan Reformasi yang telah diimplementasikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk peningkatan transparansi dan penerapan mekanisme High Shareholding Concentration.

Pemerintah menyambut positif kedua pengakuan ini sebagai validasi atas arah kebijakan yang sedang ditempuh.

Komitmen untuk terus mengakselerasi reformasi struktural dan menjaga stabilitas ekonomi domestik akan tetap menjadi prioritas, termasuk menjelang review FTSE Russell pada Juni 2026 dan MSCI pada Mei 2026.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait