Kecelakaan Kereta di Bekasi Siapa Salah?

Selasa 05-05-2026,07:00 WIB
Kecelakaan Kereta di Bekasi Siapa Salah?

Korban tewas dalam kecelakaan KRL vs KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur bertambah menjadi 16 Orang-Dok. Basarnas-

"Jangan sampai publik melihat ada agenda lain di balik desakan itu,” ujar Muslim melalui keterangan tertulis.

Reaktivasi Ribuan Kilometer Rel Kereta, Solusi?

Secara teknis, dari sudut pandang lain --pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, menilai bahwa kejadian tersebut tidak bisa dilepaskan dari persoalan jaringan kereta yang belum merata.

Menurut Djoko, saat ini masih terdapat ribuan kilometer jalur rel non-aktif di Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal. 

Padahal, reaktivasi jalur-jalur tersebut dapat menjadi solusi untuk mengurangi beban lintas di jalur aktif. Khususnya di Pulau Jawa.

"Reaktivasi jalan rel adalah langkah strategis untuk menyeimbangkan kembali sistem transportasi, memastikan pemerataan akses, dan memicu perkembangan ekonomi berbasis kewilayahan," ujar Djoko.

Data Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan mencatat, dari total 9.178 kilometer jaringan rel di Indonesia, sekitar 2.233 kilometer di antaranya masih berstatus non-aktif.

Djoko menjelaskan, jika jalur-jalur tersebut dihidupkan kembali, maka distribusi perjalanan kereta api tidak akan terpusat di lintas tertentu saja. 

Dengan begitu, kepadatan jadwal dapat ditekan dan potensi terjadinya konflik perjalanan antar kereta bisa diminimalisir.

Djoko mengemukakan tujuan reaktivasi jalan rel. Pertama, untuk meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas masyarakat. 

"Memberikan alternatif moda transportasi yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi masyarakat, khususnya di daerah yang konektivitasnya terbatas," urainya.

"Mengurangi ketergantungan pada transportasi jalan raya, yang sering kali macet dan memiliki dampak lingkungan lebih besar," sambungnya.

Tak hanya itu, lanjutnya, reaktivasi jalan rel juga dapat mengurangi beban jalan raya. Sebab, menurunkan volume kepadatan kendaraan di jalan raya seiring dengan beralihnya penumpang dan angkutan barang ke moda kereta api. 

"Membantu mengurangi kerusakan jalan raya akibat beban angkutan berat (truk). Kereta api memiliki keunggulan di sisi ekonomi pada jarak menengah (750-1.500 km)," ungkapnya.

Melalui komitmen reaktivasi itu, masih kata Djoki, kereta api bukan sekadar sisa sejarah yang berdebu, melainkan nadi yang kembali berdenyut untuk menggerakkan masa depan bangsa.

"Dengan menghidupkan kembali jalur-jalur yang sempat terputus, tidak hanya menyambungkan rel,akan  tetapi juga merajut kembali potensi ekonomi, sosial, dan pariwisata menuju konektivitas nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan," tukasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait