Kecelakaan Kereta di Bekasi Siapa Salah?

Selasa 05-05-2026,07:00 WIB
Kecelakaan Kereta di Bekasi Siapa Salah?

Korban tewas dalam kecelakaan KRL vs KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur bertambah menjadi 16 Orang-Dok. Basarnas-

"Ketika alarm berbunyi, seharusnya berhenti, tapi yang terjadi malah digas. Ini yang harus kita ubah. Kesadaran saja tidak cukup, harus diikuti dengan kepatuhan," tuturnya.

Pihaknya menekankan pentingnya penanganan cepat terhadap korban kecelakaan, terutama dalam periode emas (golden period), guna menekan angka fatalitas. Dalam beberapa kejadian, respons cepat tim gabungan dinilai mampu menyelamatkan korban.

BACA JUGA:Kecelakaan Kereta di Bekasi: Benturan Keras, Pertemuan Terakhir hingga Tangis Pilu Keluarga Korban

Korlantas bersama instansi terkait akan terus berkoordinasi untuk memperbaiki sistem keselamatan di perlintasan sebidang, termasuk pemasangan palang pintu resmi dan peningkatan pengawasan.

“Hasil olah TKP akan menjadi dasar rekomendasi agar kejadian serupa tidak terulang kembali," paparnya.

Secara garis besar Faizal menyebut kecelakaan kereta di perlintasan tidak boleh terjadi lagi. Kepolisian telah mencatat sejumlah kasus kecelakaan serupa secara nasional.

Kami mendapatkan data kecelakaan yang kerap terjadi di perlintasan kereta. Sebagai acuan, sepanjang tahun 2025 tercatat 65 kasus di perlintasan sebidang dengan 55 korban meninggal dunia, atau setara 95 persen kecelakaan dengan kereta fatalitasnya sangat buruk, berujung kehilangan nyawa.

"Ini menjadi pelajaran kita bersama bahwa kejadian di perlintasan sebidang, baik yang berpalang maupun tidak, masih cukup banyak terjadi," katanya.

Kemudian memasuki awal tahun 2026 pada Januari, setidaknya terdapat 25 kasus kecelakaan melibatkan kereta dengan kendaraan lain.

"Kita berharap tren ini bisa menurun. Ini pekerjaan kita bersama agar kecelakaan tidak terus berulang," ujarnya.

Kesalamatan Publik Puncak Prioritas Pelayanan

Kecelakaan Argo Bromo Anggrek dengan KRL ini bukan tanpa sebab pastinya. Anggota Komisi V DPR RI Syaiful Huda menyoroti tragedi ini bermuara.

Menurutnya kepatuhan masyarakat terhadap keselamatan di perlintasan kereta masih sangat rendah. Keteledoran sopir mobil listrik berinisial RRP itu harus menjadi pelajaran penting bagi seluruh lapisan masyarakat.

"Kita masih sering melihat banyak masyarakat yang nekat menerobos palang pintu meskipun sudah ada sinyal kereta hendak melintas," kata Huda.

Kendati begitu, ia juga memperhatikan betul bahwa tragedi ini patutnya menjadi momentum perbaikan bagi sistem keselamatan perkeretaapian.

Ia secara tegas menunjuk masalah ini kepada PT Kereta Api Indonesia. Huda menuntut PT KAI untuk merumuskan standar keselamatan yang lebih baik.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait