OJK Klaim Pasar Modal RI Aman dari Guncangan Dunia, Ini Angkanya

Selasa 05-05-2026,18:51 WIB
OJK Klaim Pasar Modal RI Aman dari Guncangan Dunia, Ini Angkanya

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi.--Bianca Chairunisa

JAKARTA, DISWAY.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kinerja pasar modal Indonesia tetap stabil meski dihantam eskalasi perang dagang dan memanasnya konflik geopolitik global.

Hingga April 2026, jumlah investor tercatat melonjak menjadi 26,49 juta atau tumbuh 30,06 persen secara year to date, menegaskan daya tahan pasar domestik di tengah tekanan dunia.

BACA JUGA:Berantas Penipuan, OJK dan Satgas PASTI Sukses Blokir 953 Pinjol Ilegal

Hal tersebut sendiri diumumkan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi.

Dalam penuturannya, dirinya juga memaparkan bahwa perkembangan ini juga didukung oleh peningkatan jumlah investor di pasar modal dalam negeri, yang kembali mendapat penambahan sebanyak 1,74 juta investor.

BACA JUGA:Sustainable Finance Fest 2026: OJK Minta Industri Keuangan Berani Hadapi Risiko

"Secara total jumlah investor kita telah mencapai angka 26,49 juta, atau telah tumbuh sebesar 30,06 persen year to date. Pasar modal domestik juga terus menjalankan peran pentingnya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi korporasi," papar Hasan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK, yang diselenggarakan secara daring pada Selasa 5 Mei 2026.

Melanjutkan, Hasan juga menambahkan bahwa dari sisi bursa karbon, OJK mencatat bahwa per April 2026, sudah terdapat 155 pengguna jasa yang telah terdaftar sebagai investor.

"Secara agregat, hingga April 2026 volume transaksi tercatat sebanyak 1,98 juta tons of carbon dioxide equivalent atau CO2 equivalent, dengan akumulasi nilai transaksi mencapai RP 93,75 miliar," tutur Hasan.

BACA JUGA:Daftar 94 Pinjol Legal Terbaru Resmi Diawasi OJK Per April 2026

Sementara itu dari sisi pasar saham sendiri, Hasan mengungkapkan bahwa OJK bersama Bursa Efek Indonesia dan juga KSEI telah menuntaskan seluruh empat agenda reformasi terkait dengan peningkatan transparansi di pasar modal Indonesia.

"Inisiatif reformasi tersebut telah memperoleh capaian positif. FTSE Russell dalam release country classification di tanggal 7 April 2026 lalu telah mempertahankan status Indonesia pada kategori secondary emerging market. FTSE Russell juga tidak memasukkan Indonesia ke dalam watchlist mereka," ucap Hasan.

BACA JUGA:Dugaan Pencairan Kredit Tanpa Persetujuan Direksi, Bank Pelat Merah Diadukan ke OJK

"MSCI dalam pengumuman di tanggal 20 April 2026 lalu telah memberikan acknowledgement terhadap langkah-langkah strategis otoritas Indonesia untuk terus memperkuat transparansi dan integritas di pasar modal," tambahnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: