Presiden dan Para Pengolok

Presiden dan Para Pengolok

Ahmad Sihabudin - Dosen Komunikasi Lintas Budaya FISIP UNTIRTA: Bagi bangsa ini, memilih presiden hanyalah babak pembuka, dam babak sesungguhnya dimulai setelah pelantikan: mencari bahan olok-olok.-dok disway-

Presiden dan Para Pengolok

by: Ahmad Sihabudin 

 

JAKARTA, DISWAY.ID - Ada sebuah bangsa yang luar biasa. Bangsa ini tidak pernah kekurangan ahli. Ahli ekonomi bertebaran di warung kopi.

Ahli hukum bermunculan di kolom komentar. Ahli geopolitik lahir setiap kali harga cabai naik. Dan yang paling banyak jumlahnya, bahkan mungkin mengalahkan jumlah penduduknya sendiri, adalah ahli mengejek presiden.

Bagi bangsa ini, memilih presiden hanyalah babak pembuka. Babak sesungguhnya dimulai setelah pelantikan: mencari bahan olok-olok.

Mereka bekerja siang dan malam. Bukan menyusun gagasan, bukan pula membaca dokumen kebijakan. Tidak. Mereka mengabdikan hidup pada pekerjaan yang lebih mulia: mengamati cara presiden berjalan, tertawa, batuk, tersenyum, bahkan mengedipkan mata.

Mereka percaya bahwa nasib bangsa sesungguhnya ditentukan oleh seberapa menarik bahan meme yang bisa diproduksi.

BACA JUGA:Trump Tanda Tangani Perjanjian Damai Amerika - Iran, Perang Berakhir?

Kalau presiden berbicara terlalu cepat, ia ditertawakan. Kalau terlalu lambat, ia dicibir. Kalau banyak bicara, disebut cerewet. Kalau diam, dituduh tidak paham. Kalau marah, dianggap temperamental. Kalau tersenyum, dicurigai sedang menyembunyikan sesuatu.

Sungguh bangsa yang konsisten. Konsisten tidak pernah puas.

Ketika Prof. BJ Habibie berbicara dengan penuh semangat, mata berbinar-binar seperti seorang anak yang menemukan mainan baru, sebagian orang tidak mendengar isi pikirannya.

Mereka lebih tertarik menirukan intonasinya. Padahal, orang itu menghabiskan sebagian besar hidupnya di laboratorium dan ruang penelitian, bukan di panggung lawak.

Tetapi beginilah nasib para pemimpin di negeri ini. Prestasi boleh tinggi menjulang, tetapi satu gaya bicara yang unik jauh lebih abadi daripada seribu halaman kebijakan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: