Easycash Perluas Akses Kredit untuk Masyarakat Unbanked dan Underbanked di Indonesia
Easycash Perkuat Tata Kelola dan Perluas Pendanaan untuk 10 Juta Penerima Dana---Dok. Istimewa
JAKARTA, DISWAY.ID - Akses terhadap layanan keuangan formal masih menjadi tantangan bagi jutaan masyarakat Indonesia. Di tengah meningkatnya kebutuhan pendanaan untuk mendukung aktivitas ekonomi, masih banyak warga yang belum terhubung secara optimal dengan sistem perbankan sehingga kesulitan memperoleh akses kredit yang aman dan terjangkau.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya memperkuat inklusi keuangan Indonesia masih memiliki ruang yang sangat besar. Perluasan akses pendanaan dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan White Paper yang disusun Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama Mandala Consulting berjudul Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar, layanan keuangan formal masih belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Data World Bank menunjukkan sekitar 48 persen penduduk dewasa di Indonesia masih masuk kategori underbanked, yakni telah memiliki akses terbatas terhadap layanan keuangan namun belum memanfaatkannya secara optimal. Sementara itu, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK mencatat tingkat inklusi keuangan sektor perbankan baru mencapai sekitar 70 persen pada 2025. Artinya, sekitar 30 persen masyarakat dewasa masih belum terlayani secara maksimal oleh layanan keuangan formal.
Direktur Utama PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash), Nucky Poedjiardjo, mengatakan perusahaan akan terus mendorong perluasan akses keuangan yang lebih inklusif melalui layanan keuangan digital, termasuk pinjaman daring atau pindar.
Menurutnya, keberadaan layanan pendanaan digital dapat membantu menjembatani kesenjangan akses kredit yang masih terjadi di berbagai daerah sekaligus mendukung target percepatan inklusi keuangan nasional.
“Di tengah kebutuhan kredit yang masih tinggi, perluasan akses pendanaan harus dibarengi dengan penerapan tata kelola perusahaan yang kuat. Karena itu, Easycash terus memperkuat manajemen risiko, tata kelola perusahaan, dan perlindungan konsumen sebagai fondasi dalam menyediakan akses pendanaan yang luas dan bertanggung jawab,” ujar Nucky dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Komitmen tersebut tercermin dari pertumbuhan penyaluran dana yang terus meningkat. Sejak berdiri pada 2017, Easycash yang telah berizin dan diawasi oleh OJK telah menyalurkan pembiayaan kepada lebih dari 10 juta penerima dana dengan total akumulasi pinjaman mencapai Rp96,67 triliun.
Pendanaan Digital Bantu Produktivitas Pelaku Usaha
Manfaat akses pendanaan digital turut dirasakan oleh berbagai pelaku usaha di daerah, termasuk sektor pertanian.
Salah satunya adalah Ifa Maria Ulfa, petani asal Jember yang memanfaatkan layanan pendanaan Easycash untuk memenuhi kebutuhan modal usaha, khususnya pembelian pupuk bagi tanaman cabai dan padi saat mengalami keterbatasan dana.
Menurut Ifa, akses pembiayaan yang cepat sangat membantu menjaga kelangsungan proses produksi pertanian sehingga kebutuhan usaha dapat terpenuhi tepat waktu.
“Dana yang saya peroleh sangat membantu untuk membeli pupuk saat modal usaha sedang terbatas. Proses pencairannya juga cepat sehingga kegiatan pertanian tetap berjalan tanpa harus menunda kebutuhan produksi,” kata Ifa.
Ia menilai akses pendanaan tersebut tidak hanya membantu menjaga keberlangsungan usaha tani keluarga, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman informal ketika menghadapi kebutuhan mendesak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: