Sudaryono: Jangan Kontradiksikan Dapur MBG dengan Perbaikan Sekolah
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menjawab media-Anisha-
JAKARTA, DISWAY.ID– Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan bahwa kondisi sekolah yang rusak, termasuk yang menjadi sorotan di Grobogan, Jawa Tengah, sudah terjadi jauh sebelum Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijalankan.
Menurutnya, program tersebut tidak bisa dikaitkan dengan permasalahan infrastruktur sekolah yang memang sudah lama membutuhkan perbaikan.
“Dulu enggak ada MBG, kan sekolah itu rusak bukan setelah ada MBG. Betul enggak? Kita objektif aja, sekolah itu rusak memang rusak sebelum ada program MBG. Ini sekarang oleh Presiden diperbaiki,” kata Sudaryono, Kamis (30/7/2026).
BACA JUGA:Pesantren Adalah Inkubator Pemimpin Masa Depan Indonesia
Sudaryono menjelaskan, pemerintah justru sedang mempercepat renovasi sekolah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Pada 2025, lebih dari 16.000 sekolah telah direnovasi. Tahun ini, target rehabilitasi mencapai lebih dari 70.000 unit, bahkan berpotensi mendekati 90.000 sekolah.
“Pemerintah ini di tahun 2025 telah merenovasi 16.000 lebih sekolah, dan tahun ini yang mau direnovasi itu lebih dari 70.000, bahkan Pak Mendikdasmen pernah mengutarakan bisa jadi hampir 90.000 sekolah,” ujarnya.
Ia juga membantah anggapan bahwa anggaran negara untuk sektor lain berkurang akibat Program MBG. Menurutnya, di saat MBG berjalan, pemerintah tetap mengalokasikan dana untuk berbagai program prioritas, seperti subsidi pupuk, revitalisasi irigasi, dan renovasi sekolah.
BACA JUGA:Resmi! Srikandi Merdeka Cup 2026 Digelar di Kudus, Indonesia Turunkan Dua Tim Putri U-16
Sebagai contoh, anggaran revitalisasi irigasi naik dari Rp12 triliun pada tahun lalu menjadi Rp14 triliun tahun ini. Distribusi pupuk juga dinilai semakin baik dengan harga yang didiskon 20 persen bagi petani.
“Pada kenyataannya ada MBG, yang dulu pupuk tidak cukup sekarang pupuknya cukup, bahkan harganya didiskon 20 persen. Irigasi juga direvitalisasi, tahun lalu Rp12 triliun, tahun ini Rp14 triliun, tahun depan ada lagi,” katanya.
Terkait perbandingan antara bangunan dapur MBG yang baru dengan kondisi sekolah yang masih rusak, Sudaryono menilai narasi tersebut tidak tepat. Keduanya merupakan program yang berbeda.
Dapur MBG dibangun oleh mitra pelaksana melalui skema tersendiri, sedangkan renovasi sekolah menjadi tanggung jawab pemerintah melalui kementerian terkait.
“Dapur MBG ini yang bangun adalah mitra, sementara perbaikan sekolah ini dua hal yang berbeda. Jangan kemudian seolah-olah dikontradiksikan, itu tidak fair,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: