59 Persen Kematian DBD Terjadi pada Anak, Ahli Ingatkan Waspada Saat Sekolah Dimulai
Ilustrasi MPLS: Ada satu hal yang tidak kalah penting untuk masuk dalam daftar persiapan orang tua, yaitu melindungi anak dari demam berdarah dengue (DBD).--smpn253jakarta.sch.id
JAKARTA, DISWAY.ID - Tahun ajaran baru 2026/2027 dimulai, anak-anak kembali menghabiskan lebih banyak waktu di sekolah dan berbagai aktivitas di luar rumah.
Namun, di balik persiapan seragam dan buku pelajaran, orang tua diminta tidak mengabaikan ancaman demam berdarah dengue (DBD), terlebih data Kementerian Kesehatan menunjukkan 59 persen kematian akibat dengue pada 2025 terjadi pada anak usia 0–14 tahun.
Memasuki tahun ajaran baru, berbagai perlengkapan sekolah mulai dari tas, seragam, hingga buku pelajaran telah dipersiapkan.
Namun, ada satu hal yang tidak kalah penting untuk masuk dalam daftar persiapan orang tua, yaitu melindungi anak dari demam berdarah dengue (DBD).
BACA JUGA:Cegah DBD Sejak Dini, Anak SD di Jakarta Diajak Praktik Langsung Gerakan 3M+
Data DBD pada Anak
Data Kementerian Kesehatan periode 2018–2025 menunjukkan bahwa kelompok usia 5–14 tahun secara konsisten mencatat proporsi kematian akibat dengue tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.
Pada 2025, sebanyak 59% kematian akibat dengue terjadi pada anak usia 0–14 tahun, dengan 41% berasal dari kelompok usia 5–14 tahun.
Sementara itu, dalam lima tahun terakhir, kasus dengue paling banyak ditemukan pada kelompok usia 15–44 tahun, yang mencakup 42% dari seluruh kasus pada 2025.
Data ini menunjukkan bahwa dengue dapat menyerang berbagai kelompok usia, tetapi dampaknya terhadap anak-anak memerlukan perhatian khusus.
BACA JUGA:Mau Vaksin HPV hingga DBD? Kini Bisa Bayar Pakai PayLater
Dimulainya tahun ajaran baru tahun ini berdekatan dengan peringatan Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2026 yang mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”.
Momentum ini menjadi pengingat bahwa melindungi kesehatan anak merupakan bagian penting dalam mendukung proses belajar, tumbuh kembang, dan masa depan mereka.
Upaya tersebut membutuhkan peran bersama keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan berbagai elemen masyarakat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: