Dana Asing dan IHSG
Ribka Maya Saputra Research Manager INFOVESTA: Ada satu interpretasi yang sering muncul setiap kali pasar bergerak: "Asing jual, makanya pasar turun."-dok disway-
Investor asing membukukan jual bersih sekitar Rp3,38 triliun, tetapi IHSG justru menguat 0,34% ke level 6.196. Menurut logika lampu lalu lintas, hal ini mustahil.
Tetapi mengacu pada matriks di atas, kejadian ini bukanlah anomali, melainkan Kuadran 2. Sekarang yang perlu dipertanyakan bukan "kenapa IHSG naik padahal asing jual", melainkan "kalau asing menjual, siapa yang membeli?"
BACA JUGA:IHSG Sesi I Menguat 1,25% ke 6.481 Meski Ada Demo di Bundaran HI, Analis Prediksi Lanjut Naik
Jawabannya adalah investor domestik. Pada pekan itu, investor dalam negeri menyumbang rata-rata sekitar 68% nilai transaksi harian, cukup untuk menyerap tekanan jual asing. Kendali pasar sedang berpindah tangan. Kejadian semacam ini bukan kebetulan semata.
Sepanjang 2025, IHSG melesat 22% ke rekor tertinggi, meski asing tetap membukukan jual bersih sekitar Rp17,3 triliun, dengan penguatan ditopang investor lokal.
Pola serupa muncul di momen kritis. Setelah IHSG menyentuh dasarnya pada April 2025, misalnya, asing masih menjual bersih sekitar Rp20,8 triliun sepanjang sisa bulan. Namun, pasokan tersebut diserap oleh investor domestik sehingga pasar mulai pulih.
Data Juli 2026 menunjukkan mengapa mengandalkan satu variabel bisa menyesatkan. Secara total, asing membukukan beli bersih tipis sekitar Rp1,62 triliun sepanjang Juli.
Namun, angka itu hampir seluruhnya berasal dari satu hari, yaitu tanggal 29 Juli, saat tercatat beli bersih hampir Rp9 triliun lewat satu transaksi besar, jauh melampaui hari lain.
Saat satu hari tersebut dikecualikan, asing sebenarnya menjual bersih pada 16 dari 23 hari perdagangan, sekitar Rp7,4 triliun. Narasi asing berbalik membeli pada bulan Juli lebih merupakan bias yang diakibatkan satu transaksi besar, ketimbang perubahan arah yang sesungguhnya.
Tentu jangan berayun ke ekstrem sebaliknya. Secara historis, dana asing dan arah IHSG lebih sering bergerak searah. Dominasi investor domestik saat ini pun lebih merupakan dominasi jumlah akun, belum tentu mencerminkan daya serap yang mampu menahan arus keluar puluhan triliun.
Maka kesimpulan yang tepat bukan "dana asing tidak penting", melainkan "jual bersih asing saja tidak cukup untuk memvonis pasar akan turun".
BACA JUGA:IHSG Tak Goyah, Tetap Gagah di Tengah Pidato Presiden Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR
Sebelum menyimpulkan arti sebuah angka jual asing, ada tiga hal yang perlu dicek. Pertama, nilai tukar rupiah. Jika asing jual bersamaan dengan rupiah melemah tajam, kemungkinan besar itu dana yang benar-benar keluar.
Kedua, jenis penjualannya. Sebagian jual asing hanya penyesuaian mekanis, misalnya transaksi blok besar atau perubahan bobot indeks, dan tidak mencerminkan pandangan atas prospek pasar.
Ketiga, siapa penyerapnya. Jika yang menyerap investor domestik yang besar dan merata, penguatan berpotensi berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: