Drone untuk Peternakan di Indonesia

Drone untuk Peternakan di Indonesia

--

Selain faktor biaya, keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi tantangan tersendiri. Masih sedikit peternak maupun tenaga teknis yang memiliki kemampuan mengoperasikan drone atau memahami bagaimana memanfaatkan data yang dihasilkan. Di sisi lain, penelitian mengenai drone khusus peternakan di Indonesia juga masih relatif sedikit sehingga pilihan teknologi yang tersedia belum sebanyak di negara maju. Padahal, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjembatani kesenjangan tersebut. Kampus tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu melahirkan inovasi yang dapat diterapkan langsung di lapangan. Kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan peternak menjadi kunci untuk mempercepat hilirisasi teknologi sehingga hasil penelitian tidak berhenti sebagai prototipe di laboratorium.

Pengembangan drone khusus peternakan juga perlu mempertimbangkan karakteristik kandang di Indonesia. Drone yang dirancang untuk beroperasi di dalam kandang tertutup (closed house) harus memiliki tingkat kebisingan rendah, ukuran yang kompak, sistem navigasi yang stabil, serta mampu melakukan analisis data secara langsung tanpa bergantung pada koneksi internet. Dengan demikian, teknologi tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan peternak di lapangan. Lebih dari sekadar alat pemantauan, drone juga dapat menjadi bagian dari sistem peringatan dini (early warning system). Ketika terjadi perubahan pola distribusi ayam, peningkatan kepadatan di suatu area, atau muncul indikasi gangguan kesehatan, sistem dapat memberikan notifikasi kepada peternak sehingga tindakan korektif dapat segera dilakukan sebelum kerugian menjadi lebih besar.

Kemampuan seperti ini sangat penting mengingat keberhasilan usaha peternakan sering kali ditentukan oleh kecepatan dalam mendeteksi masalah. Semakin cepat suatu gangguan diketahui, semakin besar peluang untuk meminimalkan dampak ekonomi yang ditimbulkan.

Pemerintah juga memiliki peran penting dalam mendorong adopsi teknologi drone melalui penyusunan regulasi yang mendukung inovasi, pemberian insentif penelitian, penyelenggaraan pelatihan operator drone, hingga penyediaan skema pembiayaan bagi peternak yang ingin mengadopsi teknologi baru. Langkah tersebut perlu diiringi dengan penguatan ekosistem industri drone nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk impor, tetapi juga mampu menghasilkan teknologi yang dikembangkan oleh anak bangsa.

Ke depan, pemanfaatan drone tidak hanya akan terbatas pada peternakan ayam. Teknologi serupa berpotensi diterapkan pada peternakan sapi, kambing, domba, maupun sektor perikanan. Drone dapat membantu menghitung populasi, memantau kondisi lingkungan, mendeteksi penyakit, hingga mendukung kegiatan penelitian yang membutuhkan pengamatan cepat dan akurat sehingga pengambilan keputusan untuk memberikan nutrisi yang presisi akan dilakukan semenjak dini.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan lagi apakah dunia peternakan membutuhkan drone, melainkan seberapa cepat Indonesia mampu mengadopsi dan mengembangkan teknologi tersebut. Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan, keterbatasan tenaga kerja, serta tuntutan efisiensi produksi, pemanfaatan drone bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan sebuah kebutuhan. Indonesia memiliki sumber daya manusia yang mampu mengembangkan teknologi ini. Perguruan tinggi telah mulai menghasilkan berbagai inovasi, industri mulai menunjukkan ketertarikan, dan kebutuhan di lapangan semakin nyata. Yang diperlukan sekarang adalah keberanian untuk mempercepat adopsi serta membangun kolaborasi lintas sektor.

Drone bukan lagi sekadar alat untuk menghasilkan foto udara yang menarik. Di tangan para peneliti, insinyur, dan peternak, drone dapat menjadi mata di langit yang membantu menjaga kesehatan ternak, meningkatkan efisiensi produksi, serta memperkuat ketahanan pangan nasional. Sudah saatnya pesawat tanpa awak tidak hanya mengudara di langit Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari masa depan peternakan Indonesia yang lebih cerdas, modern, dan berdaya saing global. (*)

*) Danung Nur Adli, S.Pt., M.Pt., M.Sc. adalah Dosen di Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan, Program Studi Industri Peternakan Cerdas, Universitas Brawijaya, Malang; Saat ini sedang menempuh PhD studi di Institute of Animal Science, Unversitas of Hohenheim, Jerman.


Danung Nur Adli, S.Pt., M.Pt., M.Sc.-Dokumentasi UB-

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: