Imbas 512 Santri Keracunan MBG di Sidoarjo, Kepala SPPG Tanggulangin Diusulkan Dicopot
Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, buka suara terkait indisen keamanan pangan di Sidoarjo, Jawa Timur. --Candra Pratama
Ketut menambahkan, saat ini pihaknya akan fokus dengan melakukan penyelamatan kesehatan dari para korban yang terdampak di beberapa rumah sakit.
"Bagaimana kesehatan dari anak-anak kita ini di beberapa rumah sakit. Ini yang kita utamakan," tukasnya.
Sebelumnya, santri-santriwati Pondok Pesantren Manbaul Hikmah, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur diduga mengalami kejadian keamanan pangan usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sidoarjo Tanggulangin Kalitengah.
Pengasuh Ponpes Manbaul Hikam Abdul Wahid Harun menjelaskan terdapat kurang lebih 1.000 santri-santriwati yang menjalani pendidikan di lembaga yang dikelola pihaknya tersebut.
Menurut dia, seluruh santri-santriwati tersebut secara merata menerima pasokan menu MBG.
"Sekitar 1.000 (orang jumlah santri-santriwati Pondok Pesantren Manbaul Hikmah), ya. Hari ini yang dievakuasi ke rumah sakit 431 (orang). Ya, kondisi kekuatan fisik masing-masing santri beda-beda," ungkap Abdul kepada awak media di RSUD R.T Notopuro Sidoarjo.
Selain itu, Abdul juga menyatakan insiden tersebut dapat terjadi di luar perkiraan pihak pesantren.
Menurut dia, pihak pengasuh dan segenap santri Pondok Pesantren Manbaul Hikmah hanya berstatus sebagai penerima manfaat dan tidak terlibat sama sekali dalam proses produksi menu MBG oleh SPPG Sidoarjo Tanggulangin Kalitengah.
"Tidak ada yang terencana, moga-moga baik-baik saja. Soal SPPG bukan ditangani pesantren, tapi dari beliau, dari (SPPG) Kalitengah dan kami hanya menerima manfaat saja. Tidak benar kalau SPPG itu ada di pondok, tidak benar," ucapnya.
BACA JUGA:Update Korupsi MBG di BGN, Kejagung Periksa 6 Saksi dari Kantor Pos hingga Peruri
Mengenai aktivitas belajar-mengajar di pesantren tersebut, Abdul menyebut pihaknya akan menengok perkembangan situasi dari santri-santriwati yang terdampak.
Pihak pengasuh pesantren juga telah membuka posko serta menerjunkan para pengurus untuk meninjau secara terkini situasi mereka yang masih dirawat di rumah sakit maupun yang telah menjalani rawat di kediaman masing-masing.
"Wait and see, lihat situasi besok, tapi semua harus tertangani secara tuntas ya. Ada posko dan pengurus-pengurus juga ikut memantau di tempat rumah sakit di mana anak-anak santri dirawat inap, ada yang rawat jalan," kata dia.
Lebih lanjut, Abdul menyebut pihaknya telah berupaya maksimal untuk mendampingi para orang tua ataupun wali dari masing-masing santri-santriwati tersebut agar dapat merasa tenang dan tidak mengalami risau berlebih.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: