Karya Perkara

Karya Perkara

Ibrahim Arief (Ibam) dan istri saat merespon tuntutan pidana atas kasus korupsi Chromebook.-Istimewa-

"Saya Ririe, istrinya Ibam yang terdakwa Chromebook. Tadi pagi saya baca Disway (Edisi kemarin. 4 September 2026: Lima Miliar). Mohon maaf, apakah kami boleh menanggapi? Ada beberapa analisis dan tafsir Pak Agustinus (Edy Kristianto) yang tidak sesuai dengan fakta sidang," tulis Ririe dalam WA untuk saya kemarin.

Tentu saya jawab ”boleh”. Hak Ibrahim Arief (Ibam) untuk menanggapi dan membela diri. Apalagi hukumannya diperberat di tingkat banding: dari empat tahun ke lima tahun. Dari tanpa mengembalikan uang pengganti kerugian negara menjadi harus bayar Rp 5 miliar.

Soal tambahan satu tahun penjara, itu subyektivitas hakim tingkat banding --sebagai wakil Tuhan. Tentu ada pertimbangan hukum untuk memperberatnya. Tapi untuk mengganti kerugian negara, ini sangat menarik. Apalagi nilai yang harus Ibam ganti Rp5 miliar. Dari mana hitungannya sampai pada angka itu. Maka aktivis bongkar-bongkar kejahatan pasar modal, Agustinus Edy Kristianto, membuat analisis dan tafsir. Kesimpulannya: nilai Rp5 miliar itu sesuai dengan jumlah gaji yang Ibam terima selama menjadi konsultan Yayasan Pusat Studi Pendidikam dan Kebijakan: Rp 163 juta/bulan. Mulai Januari 2020 sampai pertengahan 2022.

Ririe pun mengirim tanggapan: empat poin singkat:

1.⁠ ⁠Dari rangkaian persidangan, terungkap bahwa Ibam bekerja sebagai konsultan di yayasan hanya selama 6 bulan, yaitu Januari-Juni 2020. Bukan 3 tahun seperti yang beliau tafsirkan. Karena itu, angka Rp5 miliar yang menurutnya dari gaji konsultan selama 3 tahun adalah keliru dan tidak berdasar.

2.⁠ ⁠⁠Dalam sidang 13 Maret 2026, saksi dari pihak yayasan menjelaskan bahwa mereka menentukan penawaran gaji Ibam dengan melihat gaji Ibam sebelumnya di perusahaan swasta dan di luar negeri. Gaji yang Ibam terima dari yayasan turun dari yang Ibam terima dari swasta.

3.⁠ ⁠⁠Hal ini terlihat dalam sidang 7 April 2026, di mana terungkap bahwa tawaran kerja dari swasta yang Ibam tolak bernilai USD5 juta, dengan gaji Rp280 juta per bulan. Ini jauh lebih tinggi dari harta kekayaan yang kami sekeluarga miliki, namun kami tolak karena memprioritaskan misi bantu negara.

4.⁠ ⁠⁠Semua hakim sepakat bahwa Ibam tidak menerima keuntungan apa pun dari pengadaan. Bahkan dua hakim dissenting opinion menilai gaji Ibam dari yayasan masih wajar jika dibandingkan pengalaman kerjanya di swasta dan menekankan gaji Ibam tidak bisa disebut sebagai "suap terselubung".

"Yang menulis tanggapan itu Anda sendiri atau dibantu pengacara?" tanya saya kepada Ririe.

"Dibantu Mas Ibam," ujar Ririe, "Ini Mas Ibam ada di sebelah saya," katanyi sambil menyerahkan HP ke sang suami.

Saya pun bertanya soal kesibukan apa saja yang dilakukan Ibam selama ini. Saya bayangkan orang berprestasi seperti Ibam tidak bisa diam rebahan. Apalagi, pun hakim di Pengadilan Tinggi Jakarta, tetap memutuskan Ibam tidak perlu langsung masuk penjara. Ia tetap berstatus tahanan kota; dan masa tahanannya itu dihitung sebagai pengurang seandainya kelak tetap harus masuk penjara.

Apakah Ibam akan menjalani hukuman di penjara masih tergantung putusan kasasi Mahkamah Agung --bila Ibam menyatakan kasasi.

"Dengan status tahanan kota saya bisa tetap mengakses komputer saya," ujar Ibam. "Saya sedang membangun AI baru," tambahnya.

Artificial Intelligence yang dibangun Ibam ternyata terkait dengan proses peradilan. Itu berangkat dari pengalamannya sendiri saat diadili. Untuk membuat pembelaan Ibam harus membaca ribuan lembar dokumen. Baik dokumen yang diajukan jaksa sampai ke keterangan begitu banyak saksi di persidangan.

Ibam berkesimpulan tidak mungkin bisa memahami begitu banyak dokumen dalam waktu singkat. Pun para pengacaranya. Ibam lantas terpikir membangun otak buatan --satu hal yang memang menjadi keahliannya.

Program itu cepat sekali terbangun. Ibam hanya perlu waktu enam minggu. Ia terbantu oleh mesin scan. Semua dokumen bisa diubah menjadi format PDF. Lalu menjadi big data. Dari situlah AI yang dibangun Ibam bisa bekerja cepat. Dalam hitungan detik AI bisa ”membaca” ribuan dokumen sekaligus membuat poin-poin dan kesimpulan.

AI made in Ibam itu diberi nama "Perkara AI".

"Apakah Anda akan mematenkannya?"

"Saya sudah daftarkan," jawab Ibam.

Orang pinter, kreatif, dan pekerja keras tetaplah Ibam: di saat jadi pesakitan pun ia bisa mencipta dan menghasilkan karya penting. Sungguh, para pengacara sangat memerlukannya.

"Sudah satu perkara besar yang minta menggunakan Perkara AI," ujar Ibam.

"Boleh disebutkan perkara besar apa itu?"

"Boleh," jawabnya. "Perkara Gus Yaqut (Yaqut Cholil Qoumas, Red.), mantan menteri agama dalam persidangan kasus korupsi kuota haji itu," ujar Ibam.

Itulah Ibam. Perkara menghasilkan karya. Karya bisa menghasilkan apa saja. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 4 September 2026: Lima Miliar

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

LIMA MILIAR: ANGKA YANG PERLU DICARI CERITANYA.. Yang menarik dari tulisan pak Dahlan hari ini bukan hanya vonis lima tahun. Bukan pula angka Rp5 miliar. Yang menggelitik justru pertanyaan sederhana: Rp5 miliar itu sebenarnya uang apa? Dalam perkara korupsi, uang pengganti mestinya punya hubungan yang terang dengan manfaat ekonomi yang diperoleh dari tindak pidana. Kalau kemudian angka itu ditelusuri dari gaji Rp163 juta per bulan yang dibayar yayasan, muncul pertanyaan berikutnya: apa hubungan gaji tersebut dengan kerugian negara? Di sinilah hukum membutuhkan sesuatu yang sederhana tetapi mahal: penjelasan. Sebab angka bisa sangat presisi. Rp163 juta dikali sekian bulan memang menghasilkan angka yang rapi. Tetapi kerugian negara bukan soal matematika belaka. Harus ada hubungan sebab-akibat yang juga rapi. Saya teringat prinsip audit: angka boleh benar, tetapi klasifikasinya bisa salah. Apalagi kalau seseorang pulang dari luar negeri untuk mengabdi, lalu akhirnya mendapat hukuman lebih berat setelah banding. Pesannya bisa menjadi unik: pulang untuk mengabdi, pulang-pulang membawa putusan lima tahun. Karena itu, yang publik perlukan bukan keberpihakan kepada Ibam atau Nadiem. Yang diperlukan adalah terang. Dari mana Rp5 miliar itu berasal, bagaimana menghitungnya, dan mengapa menjadi uang pengganti. Kalau penjelasannya terang, kontroversi pun punya ujung.

Kujang Amburadul

Rasanya saya pernah nulis komen. Kesalahan Nadiem cuma satu, yaitu kenapa mau jadi menteri. Eh ternyata nambah jadi dua. Ngajak2 orang yg sudah mapan berkarier mengabdi kepada negara. Plus Ibam juga jadi bersalah, mengapa mau "mengabdi pada negara"? Sudahlah yg berhasil kabur diluar sana, jangan tergiur lagi jadi patriot yg konotasinya sudah kayak rudal. Anda sudah benar daripada kami disini frustasi menyaksikan "dagelan" tiada akhir. Untung ada "Dakelan" yg menghibur tiap pagi. Tabik.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Diaspora Indonesia yang mengorbankan karir profesionalnya untuk kembali ke Indonesia dengan risiko dipenjara seperti inilah yang lebih layak disebut patriot. Dari posisi yang sangat mapan, dia sekarang "dihabisi". Kalau mas Agus pintar menghitung "manfaat ekonomi" yang didapat Ibam, coba ia juga hitung manfaat ekonomi yang ia lepaskan untuk "pulang" dan membantu negara. Itulah patriot. Punya risiko nyawa hilang ataupun dipenjara. Hidup keluarga pun bisa terkena imbasnya. Kalau "horang kayah" yang cuma nyumbang bunga dari sekian persen hartanya itu sih bukan patriot. Cuma labelnya aja yang patriot. Ketika ketemu orang, ia akan memperkenalkan diri, "My name is Bond. Patriot Bond."

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

KALAU UANG PENGGANTI BISA DICARI DARI GAJI.. Saya jadi teringat matematika sekolah. Guru memberi soal: Rp163 juta dikali hampir tiga tahun. Murid menghitung. Keluar sekitar Rp5 miliar. Nilai sepuluh. Tetapi kalau soal itu dibawa ke pengadilan, gurunya mungkin bertanya: “Itu uang pengganti atau uang gaji?” Nah, di situlah matematikanya mulai berkeringat. Gaji adalah imbalan atas pekerjaan. Uang pengganti adalah konsekuensi ekonomi dari tindak pidana. Keduanya bisa saja bertemu. Tetapi harus dibuktikan dulu jembatannya. Kalau tidak, semua orang bergaji besar bisa cemas. Gaji sudah diterima, pajak sudah dipotong, tiba-tiba bertahun-tahun kemudian kalkulator hukum datang membawa kuitansi. Yang lebih menarik, gaji itu dibayar yayasan. Maka pertanyaan berikutnya sederhana: sumber uang yayasan apa? Ada aliran dana negara atau tidak? Apa hubungan langsungnya dengan tindak pidana? Dalam audit, kita mengenal tracing. Uang ditelusuri dari sumber sampai penerima. Jadi jangan hanya “Rp163 juta × sekian bulan = Rp5 miliar.” Itu baru matematika. Yang ditunggu publik adalah matematika plus cerita asal-usul uangnya. Sebab dalam perkara korupsi, kalkulator boleh cepat. Pembuktiannya jangan ikut-ikutan ngebut.

Momon Atun

Kesalahan pendidikan era nadiem fatal sekali, terlepas masalah korupsi crhomebook -goto- gogle (yg ada batundi balik udang) Masa era itu anak didik mau bodoh mau pintar harus naik kelas, klw gk naik gurunya yg kena bully.. Efeknya anak smp gk bisa baca, sma berhitung sederhana saja gk bisa, sekolah negeri jd semacam sekolah yg di hindari skrng krn ada image anak asal dididik saja klw masuk sekolah negeri.. Daerah yg mana ada sekolah negeri dan swasta kebanyakan negerinya kekurangan murid, sekolah swasta sampai harus indend satu dua bahkan sejak baru lahir ada yg sudah indend dulu... Lagian anah juga bukan bidangnya (pendidikan) bidangnya per ojek an kok malah ngurusi pendidikan -tulang punggung indonesia- bukannya Indonesia makin tegak malah bungkuk

Wilwa

Hasil nanya AI karena saya gak paham logat Hokkien. Suheng = Shixiong 师兄 = Kakak Lelaki 兄 Seperguruan 师. Sute = Shidi 师弟 = Adik Lelaki 弟 Seperguruan 师. Suci(k) = Shijie 师姐 = Kakak Perempuan 姐 Seperguruan 师. Suhu = Shifu 师父 = (Bapak) 父 Guru 师. Sebutan lazim untuk Guru Silat yang biasanya lelaki. Subo = Shimu 师母?= Ibu 母 Guru 师? Maksudnya adalah istri dari Guru? Sukong = Kakek 公 Guru 师. Maksudnya Gurunya Guru. Yang AI gak tahu adalah Sukiok. AI bilang mungkin maksudnya Cukiok alias Kaki 腳/脚 Babi 猪. :):):)

Jokosp Sp

Uang jajan sampai habis hanya lari ke persewaan buku. Ngerjakan tugas dan belajar bisa bablas angine. Itu dulu zaman SMA. La ceritanya berseri-seri, tapi kok ya ngangeni. Ngalahkan rindunya ke pacar kalau sudah baca Kho Ping Ho.

Liam Then

168 itu angka mantab. kalau di lafalkan dalam mandarin menjadi = "i" "liu" "pa" 1-6-8 kalau dicocoklogikan i = satu liu = menjadi "lu" jalan. "pa" = menjadi "Fa" = Rezeki/kekayaan. makanya anda banyak ketemu, pelat mobil mewah milik orang Tionghoa nomornya 168 . tapi jangan dibaca sambung sebagai kalimat. nanti jadinya "I lupa" Jadi lupa....

Tivibox

Pada beberapa kasus hukum di Indonesia, selalu ada saja tersangka yang buron atau tidak tertangkap. Selalu ada kepingan puzzle yang hilang. Dalam kasus krumbuk ini, JT yang tangan kanan mas mantan mentri sampai saat ini masih misteri keberadaannya. Padahal---seperti kata om Juve--- JT ini pemegang kunci informasi kasus ini. Kasus lain, Harun Masiku juga sampai saat ini masih bisa santai karena sudah "dilupakan". Banyak masyarakat yang tidak ingat lagi kasus apa yang membuatnya jadi buronan. Lalu, Sylvester Matutina. Terpidana pencemaran nama baik bagai hilang di telan bumi. Tak ada yang tahu keberadaannya. Memang, dua kasus terakhir yang saya sebut itu, tak merugikan keuangan negara. Tapi keduanya tetap kasus hukum, dimana seharusnya hukum ditegakkan buat pencari keadilan. APH kita pasti punya metode, teknologi, intelijen, relasi regional dan internasional buat mengendus keberadaan seseorang. Tetapi itu semua tidak bisa bekerja bila ada "sesuatu di luar kuasa" atau pihak tertentu yang tidak menghendaki seseorang buronan bisa ditangkap.

Beny Arifin

Dengan segala hormat. Nadiem tega IPO kemudian harga saham nya nyungsep menyengsarakan banyak investor retail. Ibam tega juga IPO Bukalapak padahal jelas2 saat itu kondisi perusahaan rugi dan terus merosot. Saat ini pun harga saham BUKA terendah sepanjang sejarah. Mudah2an banyak waktu merenung didalam sana.

Murid SD Inpres

selama 21 tahun, sejak 2005, nelayan sekaligus aktivis serang banten, kholid miqdar, mendeklarasikan perang terhadap korporasi oligarki yang dipimpin konglomerat aguan, terutama pasca kasus pagar laut sepanjang 30 kilometer lebih di tahun lalu. kholid miqdar yang mewakili para nelayan kecil, puji syukur didukung barisan nama serius: walhi, tempo, dan lembaga bantuan hukum dari organisasi islam muhammadiyyah. di barisan aguan, ada joko widodo, dan ikut merapat, kemarin, dahlan iskan. bahkan sampai digelari pula sosok aguan, dengan gelar "patriot sejati", patriot aguan. sungguh jejak fakta yang brutal. silakan, prof @juve zhang, bagaimana cara anda memikat hati nelayan banten, walhi, tempo, dan muhammadiyyah, untuk memilih dahlan iskan, sebagai capres rakyat kecil di 2029. silakan. _

Kujang Amburadul

Bagaimana supaya kita tidak selalu telat datang di sekolah? Murid SLA: mundurin jam masuknya Bagaimana cara menyejahterakan rakyat miskin yang ada di Endonesah? Pemerentah: naikin desilnya dari 1 ke 9 atau 10 sekalian. Mabooook...

Murid SD Inpres

7 hari yang lalu, @Murid SD Inpres menulis begini di CHD 28 Agustus 2026 "La Hua". "Prof @Juve Zhang, Murid SD Inpres memprediksi lagi, 7 hari ke depan, sengkarut desil TIDAK AKAN diulas di CHD". Mari kita telusuri perjalanan 7 hari ini. CHD 29 Agustus 2026: Rampas Aset. CHD 30 Agustus 2026: Aset Berharga. CHD 31 Agustus 2026: Akal Sehat. CHD 1 September 2026: Ahli Uang. CHD 2 September 2026: Hujan Salat. CHD 3 September 2026: Patriot Sejati. CHD 4 September 2026: Lima Miliar. Benar-benar akurat kan, prediksi @Murid SD Inpres? Urusan desil yang membuat ribuan warga miskin terlempar dari desil 3-4 ke desil 6-7 -- sehingga otomatis mereka semua kehilangan hak untuk dibantu negara -- itu BUKAN urusan penting bagi capres 2029 jagoan Prof @JZ. Sungguh luar biasa prediksi @Murid SD Inpres. .

Murid SD Inpres

Seorang Dahlan Iskan yang memiliki sejarah membangun media besar Jawa Pos seharusnya mendorong pertanyaan ala CEO: "mengapa sistem MBG bisa separah ini?", dan bukan hanya berhenti di pola pikir abad lama: "udah lah, pidana aja".

Anonim Xyz

Setelah rentetan gempa, banjir, sampai kebakaran hutan, CHDI masih punya waktu luang untuk becanda, mencatat dan memberitakan gaji salah satu konsultan, Prabowo masih sok hebat dengan skrip pidatonya, Jokowi masih asyik kampanye, Pak Miftah dan gengs Surabaya masih gembelangan dengan jabatanya. Great, A+. Sekarang di hari jumat ini, bolehkah saya tahu? Apa yang membuat kalian yakin atau super yakin, jika bumi Indonesia yang terkenal keramat ini cuma mampu menggelar aksi "DEMO" sampai disini.

mario handoko

selamat siang bp thamrin, bp agus, bp jo, bp em ha, sobat yea, sobat irary, sobat wilwa dan teman2 rusuhwan. semarang 707 peserta/ brastagi 361 peserta/ solo 175 peserta/ sleman 229 peserta/ sidoarjo 730 peserta/ tanah toraja 150 peserta/ rembang 752 peserta/ kompilasi di atas bukanlah rute roadshow senam DI. melainkan kompilasi rute keracunan embege sebulan terakhir.

Johannes Kitono

Masker Polisi. Pagi ini ketika sedang ngopi sama bro Sukiman. Tiba tiba datang rombongan polisi dan staff Dinas Sosial. Sambil sodorkan 3 pcs Masker KN 95. Gratis. Kegiatan positip ini harus dipuji.Bukti nyata kerjasama APH dan ASN di Sanggau yang tidak hanya omon omon saja. Pas teng 8.30 dengan Fortuner KB 668 DV langsung melaju ke Pontianak.Terlihat pemandangan yang memilukan sekaligus memalukan.Mobil dan motor antri panjang Solar dan Pertalite/ Pertamax di Pom Pertamina. Konon di Sei Mawang harga Solar subsidi Rp.6.800,- / liter jadi Rp.10.000,-/liter. Semua antrian juga diatur oleh calo BBM. Bagi yang mau isi BBM go show harus kecewa. Jalanan memang masih berasap tapi tembus pandang. Kiri kanan jalan ada bekas bakalan semak yang masih berasap. Dekat Sosok kelihatan tambalan aspal yang masih baru. Maklum itu jalan provinsi yang setiap hari di lewati moda ke Malaysia via PLBN Entikong. Apa kata orang kalau jalannya berlubang. Seperti masa lalu era Ganyang Malaysia. Jarak Singkawang- Sanggau yang 300 km perlu ditempuh 3 hari 3 malam. Bus Kirana Pontianak- Sanggau via Gunung Seha dan Ngabang perlu waktu 7 - 8 jam. Now, Sanggau - Pontianak via Simpang Ampar hanya 4 jam saja. Di jalanan beberapa kali ketemu pengemudi motor tanpa baju. Tangan dan badannya bertatto. Mungkin itu jimat Tolak Angin. Ketika di RM Akwang ketemu Wakil Uskup Riady bersama 2 pastor. Mereka baru kembali dari Reuni 110 tahun di Nyarumkop. Ini petanda baik pesawat bisa mendarat dan take off Jakarta. SSHB.

Irary Sadar

Asap Kalimatan sudah mampir ke kota kami. Jangan tiap tahun kirim asaplah. Sekali-kali kirim Musang King napa?, hehehe...

Irary Sadar

Kita disini sudah begitu tidak selesanya dengan kondisi udara sekarang. Uadara terasa berbau asap. Tidak terbayangkan kondisi di Kalimantan. Pasti sesak nafasnya tidak terkira. 'Separuh' nyawa berjuang unutk menghirup udara, sisanya pasrah tanpa daya. semoga cepat 'sembuh' Kalimantan ku....

Johannes Kitono

Blue Sky Supadio. Hari ini naik Citilink jam 18.45 re Jakarta. Teng 16.00 sudah tiba Lanud Supadio.Counter Citilink tidak ada early check in. SOP nya harus tunggu 1,5 jam sebelum pesawat boarding. Untung dibantu Tiara staff Blue Sky Lounge. Pemegang Prioritas Card BSI bisa leha disana. Makan minum gratis dibayar bank penerbit card. Tapi ada waktu leha di lounge dibatasi max 3 jam. Ketika ditanya bagaimana kalau pesawat delay seperti sering terjadi saat ini. Wow silahkan complain kepada Airline yang delay. Jawaban model buang badan. Pada saat cuaca tidak baik baik saja. Pesawat terkadang delay bahkan dibatalkan.Seharusnya pimpinan Blue Sky tidak boleh kaku. Aturan maksimum 3 jam perlu di update sesuai dengan keadaan cuaca. Toh bank penerbit card Prioritas. Tentu tidak keberatan tanggung biaya minum Valueable customersnya. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.

Liam Then

sore ini Pontianak sudah mulai turun hujan. Tidak deras, tapi pertanda bagus. Dari kemaren sore, tanda mau turun hujan sudah kelihatan, anginnya sudah mulai dingin, sudah terasa rintik kecil. Ternyata sore ini hujannya jadi turun. Semoga turun lagi merata ke lokasi kebakaran lahan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 145

  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Gerring Obama
    Gerring Obama
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Liam Then
    Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Komentator Spesialis
    Komentator Spesialis
  • Liam Then
    Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • HONDA CBR150R
    HONDA CBR150R
  • DeniK
    DeniK
  • Ulil Abshor
    Ulil Abshor
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Tivibox
      Tivibox
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Fa Za
    Fa Za
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Tivibox
    Tivibox
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Momon Atun
      Momon Atun
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
  • Momon Atun
    Momon Atun
    • Warung Faiz
      Warung Faiz
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • Warung Faiz
      Warung Faiz
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
  • djokoLodang
    djokoLodang
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • Pembaca Setia
      Pembaca Setia
    • Momon Atun
      Momon Atun
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Dacoll Bns
      Dacoll Bns
    • Liam Then
      Liam Then
  • alasroban
    alasroban
    • Momon Atun
      Momon Atun
    • alasroban
      alasroban
    • Liam Then
      Liam Then
  • Anonim Xyz
    Anonim Xyz
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • Yugi Porkdelicious
    Yugi Porkdelicious
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • Herry Isnurdono
    Herry Isnurdono
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • alasroban
    alasroban
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • alasroban
      alasroban
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • alasroban
      alasroban
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
    • alasroban
      alasroban
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
    • Wilwa
      Wilwa
  • Ismail Lutan
    Ismail Lutan
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Fransiska Jappy
      Fransiska Jappy
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Fransiska Jappy
      Fransiska Jappy
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Anonim Xyz
    Anonim Xyz
    • Liam Then
      Liam Then
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • alasroban
      alasroban
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Tivibox
    Tivibox
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • Sugi
    Sugi
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Sulaspin
    Sulaspin
  • Sony Hariyanto
    Sony Hariyanto
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • riansyah harun
    riansyah harun
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Wilwa
      Wilwa
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • wirasathya ngurah ray
    wirasathya ngurah ray
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
  • Tivibox
    Tivibox
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • Azza Lutfi
      Azza Lutfi
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN