Ketik Manusia Membela Tuhan

Ketik Manusia Membela Tuhan

Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-

Sejumlah analisis mengenai kekerasan di Nepal bahkan mengaitkannya dengan meningkatnya ketegangan Hindu-Muslim di kawasan Tarai-Madhesh serta pengaruh politik identitas dari India yang melintasi batas sosial dan geografis.

BACA JUGA:Emas Dunia Naik, ETF Emas Malah Turun, Ada Apa?

Namun kita harus berhati-hati: pengaruh lintas batas mungkin memperbesar ketegangan, tetapi akar persoalannya tetap berada pada bagaimana masyarakat mengelola perbedaan dan bagaimana elite politik, kelompok identitas, serta informasi yang beredar memperlakukan perbedaan tersebut.

Sebab konflik komunal hampir selalu mempunyai pola yang sama.

Perbedaan tidak menciptakan kekerasan. Cara manusia memperlakukan perbedaanlah yang menciptakan kekerasan.

Raapuhnya nilai yang diakui bersama

Sebuah masyarakat tidak cukup hanya mempunyai hukum.

Ia membutuhkan nilai bersama.

BACA JUGA:Al-Waqiah dan Manusia yang Tak Pernah Cukup

Hukum dapat mengatakan bahwa setiap orang mempunyai hak beragama. Tetapi hukum saja tidak cukup jika di dalam kepala manusia tumbuh keyakinan bahwa kelompok lain tidak pantas mempunyai hak yang sama.

Di sinilah letak persoalan paling serius dari konflik agama.

Toleransi bukan sekadar slogan yang ditempel di spanduk.

Toleransi adalah kesediaan menerima kenyataan bahwa manusia tidak dilahirkan untuk mempunyai keyakinan yang seragam.

Kita boleh berbeda dalam cara menyebut Tuhan.

Kita boleh berbeda dalam cara beribadah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: