Said Abdullah: APBN 2027 Bukan Sekadar Angka, Harus Berdampak bagi Rakyat

Senin 05-10-2026,07:41 WIB
Said Abdullah: APBN 2027 Bukan Sekadar Angka, Harus Berdampak bagi Rakyat

Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah menilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 tidak boleh hanya dipandang sebagai kumpulan angka-disway.id/Anisha Aprilia -

Menurut Said, peningkatan defisit juga akan berdampak pada kebutuhan penarikan utang baru dan beban pembayaran bunga serta pokok utang pada masa mendatang.

BACA JUGA:Menhub Dudy Perkuat Sistem Keselamatan Transportasi, Regulasi Jadi Kunci

"Sekadar ilustrasi, tahun 2015 kewajiban bunga utang memangkas 10 persen pendapatan negara, pada tahun 2026 naik menjadi 19 persen, dan berpotensi terus naik bila target defisit tidak mampu ditekan lebih rendah," katanya.

Said menyebut APBN 2027 mengalokasikan Rp539,7 triliun untuk perlindungan sosial.

Besarnya anggaran tersebut, kata dia, harus diikuti dengan ketepatan sasaran agar bantuan benar-benar diterima masyarakat yang membutuhkan.

Dia menilai persoalan inclusion error dan exclusion error dalam penyaluran bantuan sosial tidak boleh hanya dipandang sebagai persoalan administratif.

"Jangan sampai masyarakat yang seharusnya memperoleh bantuan justru tidak menerimanya. Perbaikan dan pemutakhiran basis data sosial ekonomi harus terus dilakukan agar subsidi dan perlindungan sosial semakin tepat sasaran," ungkapnya.

BACA JUGA:Jaga Perbatasan Laut, BNPP Tekankan Peran Strategis Nelayan

Selain perlindungan sosial, APBN 2027 mengalokasikan Rp824 triliun untuk pendidikan.

Said mengatakan anggaran tersebut harus dipandang sebagai investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

Menurut dia, keberhasilan anggaran pendidikan tidak cukup diukur dari tingkat penyerapan anggaran.

Pemerintah harus melihat apakah akses pendidikan berkualitas semakin terbuka, angka putus sekolah menurun, kualitas guru meningkat, dan lulusan semakin sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

"Anak buruh harus memiliki kesempatan menjadi insinyur, anak petani memiliki kesempatan menjadi dokter, dan anak nelayan dapat menjadi peneliti, pengusaha, atau ahli teknologi," ujarnya.

BACA JUGA:Komisi III Titip Pesan ke Kapolri Suyudi: Benahi Oknum Pejabat yang Arogan

Said juga menyoroti alokasi sekitar Rp195,3 triliun untuk ketahanan pangan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait