Ruhut 'Serang' Anies Pakai Editan Koteka Papua, Refly Harun: Secara Sadar Menempatkan Foto Itu Sebagai Ejekan

Ruhut 'Serang' Anies Pakai Editan Koteka Papua, Refly Harun: Secara Sadar Menempatkan Foto Itu Sebagai Ejekan

Refly Harun tanggapi unggahan Ruhut Sitompul--Tangkapan layar/YouTube Refly Harun

JAKARTA, DISWAY.ID - Poliitikus PDIP, Ruhut Sitompul belakangan ini kerap 'menyerang' Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dengan unggahan meme yang ia jadikan lelucon di media sosial.

Bahkan Ruhut tanpa ragu mengunggah editan foto Anies Baswedan mengenakan pakaian adat Papua dan koteka yang ia unggah pada 11 Mei 2022.

Dalam unggahan tersebut, Ruhut juga tampak menjadikan foto Anies Baswedan sebuah guyonan dengan keterangan di Twitternya.

“Ha ha ha kata orang Betawi usahe ngeri X Sip deh,” cuit Ruhut.

BACA JUGA:Indonesia Tersingkir dari Uber Cup 2022 usai Kalah dari Tiongkok 0-3

Sontak saja sejumlah warganet mengecam keras tindakah Ruhut karena dianggap sudah mengarah pada rasisme.

Menanggapi hal itu, Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun juga ikut mengomentari ulah Ruhut yang telah ditujukan kepada Anies Baswedan.

"Semua orang tahu Ruhut Sitompul tidak suka Anies Baswedan, sebagaimana orang-orang istana lainnya yang selama ini mengatakan MERDEKA, NKRI, MERAH PUTIH lain sebagainya," ujar Refly di kanal YouTube Refly Harun, pada 12 Mei 2022.

BACA JUGA:Kabar Jokowi Tak Disambut Pejabat AS jadi Perdebatan, Said Didu Beberkan 3 Dugaan Penyebabnya

Menurut pengamatan Refly Harun, Ruhut Sitompul dengan secara sadar mengunggah foto Editan Anies Baswedan untuk bahan ejekan.

"Artinya secara sadar dia menempatkan editan foto itu sebagai bahan ejekan," ujar Refly.

Namun Refly sangat menyesalkan, pasalnya alat yang dijadikan bahan ejekan kenapa harus pakaian adat Papua.

BACA JUGA:Sambut Liga 1 Musim 2022/23, Persita Daratkan Pelatih Fisik Asal Argentina

Mungkin koteka tidak pernah dipermasalahkan di Papua sana karena itu merupakan pakaian adat, namun beda cerita jika koteka di bawah ke tempat lain, hingga akhirnya itu berpotensi jadi lelucon yang tak pantas.

"Koteka tidak ada persoalan dengan konteks masyarakat di Papua, tetapi ketika di transfer ke tempat lain tentu jadi bahan lelucon ejekan yang tidak pantas," ujarnya.

Sumber: