Latih 3.650 Pendamping Produk Halal, ISNU Jatim Terima Dua Rekor Muri

Latih 3.650 Pendamping Produk Halal, ISNU Jatim Terima Dua Rekor Muri

Penyerahan dua rekor Muri kepada ISNU Jatim di acara Festival Produk Halal Jatim di Kampus Unisma, Malang, 1 Oktober 2022. -ISNU Jatim-

MALANG, DISWAY.ID - Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim begitu serius mendorong Jatim Jatim menjadi pusat produk halal di Indonesia. Bahkan di dunia. Lembaga badan otonom NU itu terus melakukan pelatihan pendamping proses produk halal. ISNU dipercaya menjadi mitra kerja Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Hingga saat ini ISNU Jatim merekrut 3.6500 pendamping PPH yang bertugas mendampingi pelaku UKM dalam memenuhi persyaratan kehalalan produk melalui skema pernyataan pelaku usaha atau self declare. Adapun proses pelatihan produk halal digelar sejak April-September 2022. 

BACA JUGA:Serahkan Sertifikat Halal Kepada UKM, Khofifah: ISNU Menjawab Persoalan Umat

Karena itulah ISNU Jatim mendapat penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri) sebagai Mitra Kerja BPJPH yang melakukan pendampingan dengan memperoleh sertifikat halal terbanyak. Selain itu juga penghargaan sebagai organisasi kepemudaan Islam yang memberikan sertifikat halal terbanyak dalam satu waktu. Kemarin, ada penyerahan 100 sertifikat halal secara bersamaan untuk 100 UMKM.

Penghargaan itu diterima oleh Ketua ISNU Jatim Prof M. Mas'ud Said MM PhD di acara Festival Produk Halal Jatim di Gedung Bundar Al-Asy’ari Universitas Islam Malang (Unisma). "Fungsi pendamping PPH adalah menjadi pembimbing. Sasarannya ibu-ibu, pedagang kecil, usaha menengah agar memperoleh sertifikat. MUI akan mengakui sertifikat halal ini yang memakai cara self declare. Nah, pelatihan dan pendampingan sampai UMKM dapat sertifikat halal ini gratis," kata Mas'ud yang juga menjabat komisaris Bank Jatim itu.

Kebutuhan sertifikat halal perlu digalakkan di Malang Raya dan Jawa Timur. Dari total 9,7 juta UMKM di Jatim, lebih dari 80 persen belum besertifikat halal. 

"Sebagian besar UMKM di Jatim, termasuk di Malang, adalah makanan minuman. Sebagian kosmetik, ada juga fashion. Saya katakan, dari 9,7 juta ini, rata-rata tidak punya sertifikat halal. Lebih dari 80 persen bahkan. Sehingga, kalau saya estimasi, hanya 15-20 persen besertifikat halal," kata Prof Said 


Kegembiraan pengurus wilayah ISNU Jatim setelah menerima penghargaan Muri. -ISNU Jatim-

Padahal, kata Mas'ud, ceruk-ceruk ekonomi pasar halal sangat potensial. Baik di Jawa Timur, nasional, maupun luar negeri. Konsumen kini memburu industri halal. Menurutnya, World Trade Organization juga sudah mengakui pentingnya sertifikat halal. Sebab, produk besertifikat halal diakui kebersihan, higienis dan kesehatannya. "Karena itu ISNU Jatim melahirkan dan melatih 3.650 anak muda kreatif jadi pendamping proses produk halal (PPH)," kata direktur pascasarjana Unisma itu. 

Pasar industri halal masih luas di Jatim. Sehingga, Said yakin sertifikasi halal ini akan dicari. Ke depan, ISNU Jatim bakal mendorong UMKM naik kelas lewat sertifikasi halal. Selain produksi yang berkualitas dan kemasan baik, ISNU akan membantu penguatan online system UMKM.

"Dua hal yang dibutuhkan UMKM modern saat ini. Pertama, penguatan teknologi informasi agar produknya bisa masuk pasar internasional. Kedua, pembiayaan atau finance. Untuk yang terakhir ini, kami gandeng Bank Jatim. Supaya, bisa membiayai UMKM yang ingin naik kelas lewat sertifikat halal," tambah Said. (*)

 

Sumber: