SKANDAL 'CASHBACK' Laptop Chromebook Rp9,9 Triliun
Skandal 'Cashback' mencuat di kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook Rp9,9 Triliun.-dhimas fin-
Kualitas di Bawah Standar: Ada keluhan mengenai spesifikasi perangkat yang diterima sekolah-sekolah yang tidak sesuai standar atau tidak sebanding dengan harga.
Spesifikasi rendah: Hanya 4GB RAM, penyimpanan 32GB, dan bergantung pada internet.
Vendor Lokal yang Terlibat: Data e-katalog LKPP menyebut enam vendor lokal: Zyrex, Axioo, Advan, Evercoss, Supertone (SPC), dan TSMID, dengan TKDN 25-40%.
3. Jaringan Perusahaan Afiliasi yang Mencurigakan:
Penyelidikan mendalam mulai mengungkap keterlibatan sejumlah perusahaan yang diduga memiliki hubungan afiliasi dengan pihak internal Kemendikbudristek atau lingkaran kekuasaan.
Pola Tender yang Terencana: Indikasi awal adanya pengaturan dan praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) terlihat dari pola tender yang mengarah pada pemenangan pihak-pihak tertentu dengan rekam jejak yang meragukan.
4. Manipulasi Tender dan Dana BOS yang Diarahkan:
Permainan Tender: Modus operandi yang disinyalir melibatkan permainan tender. Proses lelang diatur untuk memenangkan perusahaan tertentu.
Penggelembungan via Dana BOS: Ada indikasi penggelembungan harga juga terjadi melalui pemanfaatan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), yang seharusnya fleksibel. Namun diarahkan untuk pembelian Chromebook dengan harga yang telah ditentukan.
5. Pemeriksaan Saksi dan Potensi Keterlibatan Tingkat Atas:
Daftar Pemeriksaan: Sejumlah pihak, termasuk 6 pejabat Kemendikbudristek di berbagai level, perwakilan perusahaan penyedia, hingga pihak sekolah, telah dipanggil dan diperiksa.
Nama Nadiem Terus Disebut: Meskipun belum ada penetapan tersangka yang langsung menyeret Nadiem Makarim, posisinya sebagai pimpinan kementerian saat kebijakan digulirkan membuatnya terus disebut.
Pendalaman Rantai Komando: Penegak hukum berkomitmen mendalami rantai komando dan pengambilan keputusan untuk mengungkap potensi keterlibatan pihak di tingkat atas.
Tanggung Jawab Pemegang Kebijakan
Pemeriksaan pihak Google oleh Kejagung juga memicu respons dari para pakar hukum pidana. Hudi Yusuf dari Universitas Bung Karno berpendapat semua saksi dalam kasus ini bisa menjadi "pintu masuk" untuk mengungkap dalang utamanya.
“Asalkan kualitas pemeriksaan yang dilakukan penyidik maksimal. Pembongkaran kasus korupsi seharusnya dimulai dari level tertinggi. Yaitu Menteri. Karena menteri adalah pembuat aturan strategis, bukan bawahannya yang hanya menjalankan teknis,” kata Hudi.
Hal senada disampaikan Abdul Fickar Hadjar. Pengamat asal Universitas Trisakti ini menyatakan meskipun tidak menjawab langsung apakah Google akan membuka tabir siapa dalang dalam kasus ini.
“Kejagung sedang mencari informasi transaksi antara Kemendikbud dan Google. Targetnya untuk menentukan siapa pihak paling bertanggung jawab sebagai tersangka. Sebab ada kerugian negara,” jelas Abdul Fickar.
Menurutnya, semua pihak yang mengetahui peristiwa ini wajib diperiksa. Termasuk dari internal Kemendikbud, Google, maupun pihak lain.
5 Fakta yang Bikin Publik Geram
1. Anggaran Rp 9,9 Triliun untuk Laptop Tak Layak Pakai
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: