Waduh! Orang Indonesia Doyan Asin, Konsumsi Garam 2 Kali Lipat dari Batas Normal

Waduh! Orang Indonesia Doyan Asin, Konsumsi Garam 2 Kali Lipat dari Batas Normal

Dalam acara Simposium dan Workshop Kesehatan Kerja 2025 yang digelar IDKI, Ajinomoto Indonesia memperkenalkan berbagai program edukatif yang mendorong perubahan gaya hidup sehat di lingkungan kerja.--Istimewa

JAKARTA, DISWAY.ID - Tahu nggak, rata-rata orang Indonesia mengonsumsi garam dua kali lipat dari batas aman yang disarankan oleh WHO?

Padahal, kelebihan garam bisa meningkatkan risiko penyakit serius seperti hipertensi, stroke, hingga penyakit jantung.

Tapi tenang, kamu masih bisa makan enak tanpa harus "asin banget", kok.

BACA JUGA:PHK Massal Karyawan Gudang Garam, Ekonom Soroti Rokok Ilegal dan Cukai Tembakau

Fakta Serius: Orang Indonesia Kelebihan Garam

Menurut dr. Yohan Samudra, SpGK, AIFO-K, spesialis gizi klinik RS Premier Bintaro, konsumsi garam berlebih menjadi salah satu pemicu utama penyakit degeneratif.

Rata-rata masyarakat Indonesia mengonsumsi lebih dari 10 gram garam per hari, padahal rekomendasi WHO hanya 5 gram per hari (sekitar satu sendok teh).

“Lima dari sepuluh orang Indonesia melebihi angka itu,” ujarnya dalam Simposium Kesehatan Kerja IDKI 2025, yang juga diikuti oleh PT Ajinomoto Indonesia.

BACA JUGA:Badai PHK Gudang Garam Jadi Sinyal Berat Industri Tembakau Sekaligus Ketidakpastian Ekonomi

Kurangi Garam, Tambahkan MSG

Kurangi penggunaan garam, dan tambahkan sedikit monosodium glutamate (MSG) seperti AJI-NO-MOTO®.

Mengapa? Karena kandungan natrium dalam MSG hanya sepertiga dari garam biasa. Jadi, kalau kamu pakai kombinasi:

1 sendok teh garam + ½ sendok teh MSG untuk 1 liter air/kuah,

hasilnya: masakan tetap gurih, tapi total natriumnya lebih rendah.

BACA JUGA:WellFest 2025 Jadi Momentum Saatnya Kamu Kurangi Makanan Tinggi Garam, Gula, dan Lemak

Menurut Indra Nurcahyo, Head of Human Resources Department PT Ajinomoto Indonesia, “Perusahaan juga perlu menciptakan ‘attractive programs which can change our employee healthy behaviour’ untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan di kalangan karyawan. Program ini terbukti efektif, ditandai dengan peningkatan signifikan pada health age yang tercermin dari hasil Medical Check Up (MCU) karyawan setiap tahunnya. Selain itu juga dapat dilihat perubahan pola makan gizi seimbang, yang tumbuh melalui partisipasi aktif dalam program edukatif tersebut. Selain itu terdapat kegiatan pendukung berupa Fun & Health Activities, yang mencakup kegiatan ‘exercise’ dan lose weight challenge’. Sinergi antara edukasi dan aktivitas fisik ini mendorong karyawan untuk lebih peduli terhadap gaya hidup sehat, sehingga berdampak positif terhadap kondisi kesehatan karyawan serta peningkatan produktifitas kerja secara menyeluruh,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads