KESEHATAN MENTAL BANGSA
Ace Hasan Syadzily (Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional/Lemhannas RI --
BACA JUGA:Perbedaan Sistem Pesantren dan Feodalisme-Fasisme
BACA JUGA:Nabi Muhammad SAW dan Tradisi Saling Memberi dari Ahlus Suffah dan Darul Arqam
Kesehatan mental tidak bisa hanya dibebankan pada satu kementerian.
Ia harus menjadi bagian dari perencanaan pembangunan jangka panjang.
Kelima, kita mesti menggali kembali nilai-nilai resiliensi khas Indonesia: gotong royong, kekeluargaan, kesederhanaan, dan religiusitas yang menenteramkan.
Nilai-nilai ini perlu diterjemahkan ke dalam program-program nyata, bukan hanya slogan.
Di banyak daerah, kearifan lokal terbukti efektif menjadi penyangga kesehatan mental masyarakat dalam situasi krisis (Koentjaraningrat, 2009).
Keenam, ketahanan digital harus menjadi prioritas baru.
Tantangan kesehatan mental generasi muda hari ini banyak lahir dari layar gawai: perbandingan sosial di media sosial, cyberbullying, hoaks, hingga adiksi gim dan konten instan.
Pendidikan literasi digital yang memuat aspek psikologis dan etika tak bisa ditunda (Livingstone & Helsper, 2019).
BACA JUGA:Xpose Uncensored dan Pesantren dalam Perspektif Komunikasi dan Public Relations
BACA JUGA:Gaza Pasca KTT: Harapan & Tantangan
Pengaturan yang bijak atas akses media sosial bagi anak juga menjadi bagian dari perlindungan generasi masa depan.
Melalui langkah-langkah tersebut, kita sedang membangun bukan hanya sistem layanan kesehatan mental, tetapi juga ekosistem yang membuat setiap warga merasa diakui, didengar, dan didampingi.
Itulah fondasi ketahanan nasional yang sesungguhnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: