Indonesia, Rumah Baru Islam Dunia: Cerita dari Kampus UIII
Prof. Jamhari Makruf, Ph.D. - Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia –-dok disway-
BACA JUGA:Gelombang Suksesi: Mencari Talenta yang Tepat untuk Mencapai Keberlanjutan
Masyarakat Indonesia yang multietnis dan multiagama menuntut etika beragama yang lapang.
Dalam istilah Clifford Geertz, kehidupan sosial Indonesia adalah “mosaic of meaning” yang tak bisa dipaksakan seragam.
Maka, wasathiyah bukan sekadar sikap teologis, tapi strategi sosial untuk bertahan dalam keragaman.
Pengalaman demokrasi kita pun dibangun di atas kesadaran serupa: perbedaan bukan ancaman, melainkan keniscayaan.
Saat banyak negara mayoritas Muslim gagal menjaga demokrasi, Indonesia menunjukkan bahwa Islam dan demokrasi bisa berjalan berdampingan.
Perempuan, Pendidikan, dan Integrasi Ilmu
Islam Wasathiyah juga tampak dalam penghargaan terhadap perempuan.
BACA JUGA:Tiga Kelebihan Bauran BBM dengan Etanol
BACA JUGA:Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia
Perempuan Indonesia menempuh pendidikan tinggi, menjadi dosen, hakim, pejabat, bahkan menteri luar negeri.
Retno Marsudi, misalnya, adalah tokoh pertama yang menggagas beasiswa bagi perempuan Afghanistan setelah Taliban melarang mereka bersekolah—contoh nyata diplomasi Islam Wasathiyah di ranah global.
Dalam bidang pendidikan, Indonesia pun unik: tidak ada pemisahan kaku antara ilmu agama dan ilmu umum.
Tradisi lama yang memuliakan ilmu agama di atas sains duniawi pelan-pelan berubah.
Di tangan para pemikir seperti Harun Nasution, Azyumardi Azra, dan generasi baru UIN, paradigma yang diusung bukan “Islamisasi ilmu”, tetapi integrasi ilmu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: