PPN 12%, Antara Target Negara dan Ujian Keadilan Kehidupan Rakyat
Sejak Pajak Pertambahan Nilai (PPN) naik menjadi 12 persen awal tahun lalu, efeknya tak hanya berhenti pada barang dan jasa bernilai tinggi.--
BACA JUGA:PPN 12% Bikin Susah! Boro-Boro Beli HP atau Mobil, Rp100 Ribu Sehari Gak Cukup
Paylater dan Cicilan Ringan: Kemudahan yang Menambah Beban Tak Terlihat
Di sektor lain ada barang elektronik mulai dari handphone, laptop hingga televisi dikenakan kenaikan pajak PPN 12 persen.
Tanpa kita sadari, ada barang ada kualitas plus ada pajak tambahan sekarang.
Dengan segala kemudahan sekarang, semua orang punya hak untuk punya sesuatu yang dia inginkan. Misal sepeda motor yang bisa dicicil dengan uang muka rendah.
Terus ada ponsel dan laptop kelas atas yang bisa dibeli kalangan menengah dengan metode paylater.
BACA JUGA:Pemerintah Bagi-Bagi Stimulus Baru: Bansos Minyakita, Diskon PPN Tiket Pesawat hingga Relaksasi KPR
Harga barangnya tinggi, namun skema kepemilikannya begitu mudah.
Hal ini secara tidak langsung mampu menghipnotis hawa nafsu dan isi rekening seseorang.
Efek dominonya ada biaya logistik yang harus dibebankan kepada konsumen.
Ada biaya ini dan itu yang kemudian membuat barang tersebut bertambah nilai harganya.
Efeknya pun begitu terasa hingga kelas kalangan bawah. Sudah menjadi hukum alam. Ekonomi kekinian trennya seperti sebuah Piramida terbalik.
BACA JUGA:Hore! Menkeu Purbaya Sebut Kenaikan PPN Tunggu Pertumbuhan Ekonomi Tembus 6 Persen
Jika tidak dikontrol dengan baik maka dampaknya akan sangat luas.
Itulah yang dirasakan masyarakat luas sekarang. Sebagai contoh kenaikan UMP Jakarta 2026. Memang ada kenaikan 6,1 persen.
Tapi normalnya, gaji Rp5,7 sekian juta itu melebihi biaya dan kebutuhan bulanan di Jakarta yang tembus Rp5,8 sekian juta lebih.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: