Tabir Gelap Child Grooming, Antara Normalisasi dan Relasi Kuasa

Tabir Gelap Child Grooming, Antara Normalisasi dan Relasi Kuasa

Ilustrasi. KPAI menegaskan bahwa child grooming merupakan bagian dari kekerasan seksual terhadap anak yang dapat terjadi tidak hanya melalui interaksi langsung, tetapi juga di ruang digital. -Istimewa-

"Setiap kebaikan yang dia berikan ternyata memiliki 'tagihan' di belakangnya. Dia menggunakan semua fasilitas itu untuk berkata, 'Lihat apa yang sudah aku korbankan untukmu.' Hal itu membuat saya merasa sangat berdosa jika mencoba pergi."

5. Normalisasi Hal Tidak Pantas sebagai Sesuatu yang "Spesial"

Inilah bagian yang paling merusak secara psikologis. Pelaku membingkai perilaku menyimpang sebagai rahasia manis antara dua orang yang saling mencintai. Pelaku meyakinkan Aurelie bahwa apa yang mereka lakukan adalah tanda kedewasaan dan bentuk ikatan yang lebih tinggi dari hubungan orang biasa.

"Dia membuat saya merasa dipilih, merasa lebih dewasa dari usia saya. Dia membungkus pelecehan itu dengan kata-kata indah hingga saya tidak menyadari bahwa itu adalah kejahatan."

Korban Child Grooming Ungkap Luka Psikis hingga Terjerat Utang

Kasus child grooming masih menjadi ancaman serius bagi anak dan remaja di Indonesia. Modusnya kian beragam, mulai dari pendekatan emosional, manipulasi cinta, hingga relasi kuasa yang berujung pada kekerasan fisik, seksual, dan tekanan ekonomi.

Dua korban, sebut saja Nurul dan Sintia, membeberkan pengalaman pahit mereka yang meninggalkan luka mendalam hingga kini.

Nurul mengisahkan awal perkenalannya dengan sang mantan bermula dari lingkar pertemanan.

Saat itu, ia tengah berada dalam kondisi rapuh karena hubungan jarak jauh dengan kekasihnya. Kehadiran sang mantan yang selalu ada di sisinya membuat Nurul merasa mendapatkan perhatian dan dukungan emosional.

"Awalnya gift kecil-kecil, perhatian, dan semua terasa aman karena tidak ada paksaan. Tapi perlahan aku terjebak," ujar Nurul ketika dihubungi disway.id pada Kamis, 22 Januari 2026.

Hubungan yang berlangsung selama empat tahun itu berubah menjadi toksik. Nurul mengaku mengalami tekanan verbal dan fisik, pembatasan pergaulan, hingga ketergantungan emosional. Setelah berpisah, ia baru menyadari dampak besar yang ditinggalkan.

"Setelah lepas, aku baru ngerasa bebas. Selama empat tahun aku bahkan nggak bisa main sama beberapa teman lamaku," katanya.

Tak hanya luka psikis, Nurul juga harus menanggung beban ekonomi akibat jeratan pinjaman online (pinjol).

Ia menyebut pinjaman belasan juta rupiah yang awalnya disepakati bersama justru berujung ditinggalkan sepihak oleh mantan pasangannya.

"Dia resign tanpa sepengetahuanku dan ninggalin cicilan ke aku. Sampai sekarang aku masih nanggung utang sekitar Rp4 juta," ungkap Nurul.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads