Agenda Peradaban Berbasis Kampus

Agenda Peradaban Berbasis Kampus

Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D.: Perguruan tinggi sering dinilai dari gedungnya, peringkatnya, atau jumlah publikasinya. Namun sejarah menunjukkan bahwa kampus yang benar-benar berpengaruh bukan hanya yang besar secara administratif, melainkan yang-dok disway-

BACA JUGA:4 Pejabat OJK Mundur, Friderica Ungkap Strategi Besar Selamatkan Pasar Modal

Di titik ini, UIN Jakarta diuji: apakah keberlanjutan hanya berhenti pada infrastruktur, atau menjelma menjadi budaya akademik yang hidup.

Kedua, persiapan menuju PTNBH. Transformasi ini kerap dibaca semata sebagai perubahan status hukum.

Padahal substansinya jauh lebih dalam: pergeseran cara berpikir dari birokrasi prosedural menuju tata kelola berbasis kinerja dan tanggung jawab publik.

OECD (2022) mencatat bahwa otonomi perguruan tinggi hanya efektif jika disertai akuntabilitas yang kuat, kepemimpinan profesional, dan sistem pengawasan internal yang matang.

Tanpa itu, otonomi justru berisiko melahirkan fragmentasi dan konflik kepentingan.

Ketiga, pengembangan unit usaha. Kemandirian finansial bukan tujuan akhir, melainkan prasyarat keberlanjutan akademik.

Pengalaman universitas-universitas global menunjukkan bahwa unit usaha yang sehat adalah yang selaras dengan misi keilmuan, bukan yang mengorbankannya.

BACA JUGA:Ressa Anak Kandung Denada Mendadak Muncul Jadi Muse Koleksi Fashion Shella Saukia

BACA JUGA:Amanda Manopo Sedih Calon Bayinya Disebut Anak Haram, Netizen Langsung Ambil Kalkulator

Bagi kampus keagamaan, tantangannya lebih kompleks: memastikan aktivitas ekonomi tetap berpijak pada etika, transparansi, dan kemaslahatan publik.

Keempat, internasionalisasi. Dunia akademik hari ini tidak lagi mengenal batas geografis. Namun reputasi global tidak dibangun melalui nota kesepahaman semata.

Times Higher Education (2024) menegaskan bahwa internasionalisasi yang bermakna lahir dari riset kolaboratif, mobilitas dosen dan mahasiswa, serta kontribusi intelektual pada isu-isu global. Internasionalisasi tanpa substansi hanya akan menjadi kosmetik reputasi.

Kelima, akselerasi riset, publikasi, dan pengabdian. Inilah tantangan klasik kampus Indonesia. Terlalu lama kita terjebak pada logika output administratif.

World Bank (2021) menekankan bahwa universitas berdaya saing adalah universitas yang risetnya berdampak pada kebijakan publik, inovasi sosial, dan pemecahan masalah nyata di masyarakat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads