PHK Menggila 2025, Kelas Menengah Terpaksa Jadi Ojol dan freelance: Pengangguran Tembus 7,3 Juta
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di berbagai sektor, mendorong lonjakan angka pengangguran dan memperluas fenomena ekonomi serabutan, dan tahun 2025 menjadi periode berat bagi dunia ketenagakerjaan Indonesia-Dok. Disway.id-
Risiko sakit atau kecelakaan bisa langsung menghentikan pemasukan.
“Ini bisa menjadi bom waktu sosial,” ujarnya.
BACA JUGA:Peran Krusial Orang Tua di Kasus Child Grooming, LPSK Siap Beri Perlindungan
Sarjana Menganggur dan Mismatch Industri
Sosiolog Musni Umar menilai menjamurnya ekonomi gig berkorelasi langsung dengan tingginya pengangguran terdidik.
Data BPS menunjukkan sekitar satu juta lebih lulusan sarjana menganggur pada pertengahan 2025.
Faktor mismatch antara keahlian dan kebutuhan industri, minim pengalaman kerja, serta ekspektasi gaji tinggi menjadi penyebab utama.
Menurut Musni, solusi jangka panjang bukan sekadar membuka lapangan kerja, melainkan mengubah pola pikir masyarakat dari employment (mencari kerja) menjadi empowerment (menciptakan kerja).
BACA JUGA:Rahasia Gelap dan Celah Pidana Child Grooming
BACA JUGA:Tabir Gelap Child Grooming, Antara Normalisasi dan Relasi Kuasa
Ia mencontohkan negara seperti China yang mendorong kewirausahaan dengan dukungan regulasi dan akses pembiayaan.
Tanpa akses modal yang inklusif, dorongan wirausaha hanya akan menjadi slogan.
Kendala klasik perbankan dengan prinsip 5C—Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition, membuat banyak usaha mikro sulit mendapatkan pembiayaan.
Peran Negara dan BUMN
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: