Gelombang PHK Picu Trauma Turun Kelas dan Krisis Identitas, Psikolog Beberkan Dampak Micro-Burnout
Gelombang PHK di Indonesia tak hanya berdampak pada kondisi finansial pekerja, tetapi juga memunculkan tekanan psikologis yang jarang terungkap ke publik-disway.id/Bianca Khairunnisa-
Awalnya terpukul, ia kemudian memilih menjadi pengantar makanan untuk menjaga arus kas keluarga sambil mencari peluang lain.
BACA JUGA:Tabir Gelap Child Grooming, Antara Normalisasi dan Relasi Kuasa
BACA JUGA:KUHAP-KUHP Baru: Dekolonisasi, Seragam dan Adil?
Sedangkan Toni Sutrisno memilih pesangon ketimbang relokasi.
Setelah 15 tahun bekerja sebagai staf logistik, Toni menghadapi pilihan relokasi ke Surabaya atau menerima pesangon.
Demi keluarga yang sudah menetap di Jakarta, ia memilih keluar dan kini bekerja sebagai driver.
Baginya, keputusan itu berat secara psikologis, namun menjadi jalan realistis untuk mempertahankan penghasilan.
Gelombang PHK menunjukkan bahwa dampak kehilangan pekerjaan jauh melampaui urusan finansial.
BACA JUGA:Dinamika Pasal-pasal KUHAP-KUHP Baru, Awas Jebakan Batman!
BACA JUGA:KUHP-KUHAP Baru, Wajah Baru Hukum Indonesia di Tepi Jurang
Trauma penurunan kelas sosial, krisis identitas, dan micro-burnout menjadi tantangan nyata di era kerja fleksibel.
Namun di balik tekanan itu, sebagian pekerja menemukan definisi baru tentang makna kerja, fleksibilitas, dan kualitas hidup.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: