Gelombang PHK Picu Trauma Turun Kelas dan Krisis Identitas, Psikolog Beberkan Dampak Micro-Burnout
Gelombang PHK di Indonesia tak hanya berdampak pada kondisi finansial pekerja, tetapi juga memunculkan tekanan psikologis yang jarang terungkap ke publik-disway.id/Bianca Khairunnisa-
Jika di kantor burnout berkembang perlahan akibat tekanan institusional, maka di sektor gig economy muncul apa yang disebutnya sebagai micro-burnout.
Serta kelelahan mental akibat tekanan target harian, algoritma aplikasi, serta ketidakpastian pendapatan.
Meski begitu, para psikolog menilai transisi ekonomi bukan akhir segalanya.
BACA JUGA:Makan Tempe Pun Nyicil, Ketika Sembako dan Pulsa Jadi Tawanan Paylater
BACA JUGA:Siasat Gerilya Sales QRIS dan Candu Paylater
Dengan dukungan sosial dan strategi adaptasi yang tepat, pekerja tetap dapat menemukan makna dan stabilitas baru.
Ekonom Ingatkan Risiko Pengangguran dan Sektor Informal
Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, menilai tingginya pengangguran global bisa berdampak serius bagi Indonesia.
Menurutnya, tanpa langkah strategis seperti peningkatan kualitas SDM, kepastian regulasi, serta ekspansi usaha produktif, Indonesia berisiko menghadapi pembengkakan sektor informal dalam 10–15 tahun ke depan.
Ia mengutip tiga strategi utama untuk mempersempit kesenjangan lapangan kerja:
BACA JUGA:Gaji Numpang Lewat Akibat Paylater, Antara Penyelamat Instan dan Jeratan
BACA JUGA:Harga Daging Sapi Terus Naik Jelang Ramadan, Pasokan di Pasar Tradisional Kian Tipis
1.Membangun infrastruktur dan kualitas SDM Pendidikan, transportasi, listrik, dan layanan kesehatan menjadi fondasi tumbuhnya investasi dan penyerapan tenaga kerja.
2.Menciptakan iklim usaha yang ramah Regulasi yang jelas dan stabil mendorong ekspansi usaha, terutama UMKM.
3.Membantu bisnis naik kelas Dukungan pembiayaan dan perlindungan risiko memungkinkan dunia usaha membuka lebih banyak lapangan kerja.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: