Manuver Perppu Defisit APBN untuk Selamatkan Perut Rakyat

Manuver Perppu Defisit APBN untuk Selamatkan Perut Rakyat

Ilustrasi aktivitas ekonomi masyarakat seiring kondisi global yang dinamis-Dimas Rafi-

"Harapannya semoga ada THR untuk driver ojol. Kami juga butuh untuk kebutuhan Lebaran," katanya penuh harap.

Nasib mitra memang begitu. Berstatus "mitra", tapi berharap tunjangan bak "karyawan". Untungnya, ada pelanggan yang baik hati kasih tip atau sembako. Itu sudah dianggap sebagai bonus surgawi bagi mereka.

Wahyu, rekan sejawat Eggie, juga merasakan hal yang sama. Baginya, narik ojol adalah jembatan sambil menunggu pekerjaan tetap. "Tarikan lumayan ramai, naik 10 persenlah dibanding sebelum puasa," ujarnya.

Namun, Wahyu punya keluhan yang sama dengan jutaan driver lainnya: tarif atau argo yang suka turun tiba-tiba.

Di tengah harga kebutuhan yang naik akibat konflik global, argo yang turun adalah kiamat kecil bagi dapur mereka.

Dilema Nastar dan Kantong yang Bolong

Bicara Lebaran, tentu bicara kue kering. Bisnis musiman yang harusnya panen raya. Tapi Mae, seorang penjual kue kering di Bekasi, justru menghela napas panjang.

Bisnis rumahan yang dia jalankan bersama keluarganya sejak 2018 ini sedang diuji. Mae menjual nastar, akar kelapa, kue bawang, sampai peyek. Harganya standar: nastar Rp 80 ribu per toples 500 gram.

Tapi tahun ini, Mae meramal omzetnya bakal turun sekitar 20 persen.


Ikustrasi pengantar makanan yang dipesan melalui online-Dimas Rafi-

"Tahun ini penjualan agak menurun. Makin banyak yang jualan kue kering, persaingannya ketat," jelas Mae.

Tapi bukan cuma soal saingan. Mae melihat ada pergeseran daya beli. "Walaupun gaji naik, tapi kebutuhan lain juga makin mahal. Baju Lebaran saja sekarang harganya mahal, jadi orang harus lebih pintar mengatur pengeluaran," paparnya.

Nastar sekarang bukan lagi prioritas utama. Kalau uang terbatas, orang akan pilih beli beras daripada beli kue yang habis dalam sekali kunyah. Inilah realita ekonomi di tingkat bawah. Kebijakan upah minimum yang naik, terasa tidak ada artinya karena disalip oleh kecepatan kenaikan harga barang pokok.

Antara Optimisme Menteri dan Realita Ekspor

Lalu, bagaimana kata pemerintah?

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait