Yang Saya Dengar dari Timor Leste
Direktur Operasional, Pemberitaan, dan Jaringan Disway.id, Mashudi bersama Domingos Savio, Counsellor Embassy of the Democratic Republic of Timor Leste di Kantor Disway, Palmerah Barat No.353, komplek kampus widuri, Blok A1-3, Kebayoran Lama, Jakarta Sela-disway.id-
Mirip MBG yang sekarang ramai di kita. Program ini dimulai sekitar 2005. Awalnya dengan dukungan World Food Programme.
BACA JUGA:Ketika Dampak Menjadi Mantra Baru
Saat itu, masalah gizi dan akses pendidikan masih berat. Lalu 2009–2010, pemerintah mulai mengambil alih.
Menjadikannya program nasional. Dan berjalan sampai sekarang.
Bukan sekadar makan. Tapi cara melawan stunting. Banyak keluarga tidak mampu memberi makan cukup.
Dan program ini membuat anak-anak datang ke sekolah.
Timor Leste negara kecil. Penduduknya sekitar 1,4 juta jiwa. Kalau di Jawa, setara satu kabupaten.
APBN-nya sekitar Rp36 triliun.
BACA JUGA:Peluang Kopi Indonesia di Tengah Dinamika Global
“Kami tangguh. Walau uang kami tidak banyak,” kata Savio.
Saya menangkap satu hal: Mereka ingin serius merawat masa depan. Minyak dan gas tidak dihabiskan.
Ditabung dalam Petroleum Fund. Penggunaannya dijaga.
Ada batas keberlanjutan. Tidak boleh sembrono. Mereka belajar dari Norway.
Negara kaya minyak. Hasilnya tidak dihabiskan hari ini. Mereka simpan.
Mereka kelola. Lewat dana abadi. Hanya sebagian kecil yang dipakai. Sisanya dijaga.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: