Nilai Tukar Rupiah Rentan, Ekonom Soroti Rencana RAPBN 2027

Selasa 18-08-2026,22:59 WIB
Nilai Tukar Rupiah Rentan, Ekonom Soroti Rencana RAPBN 2027

Ilustrasi mata uang rupiah.-Foto/Unsplash/Mufid Majnun-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Ditengah-tengah meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap Rancangan APBN 2027 (RAPBN) yang diumumkan oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada (14/08) lalu, sejumlah faktor yang kini tengah menimpa perekonomian negara turut menimbulkan pertanyaan akan efektivitas kebijakan tersebut.

Salah satu faktor tersebut adalah masih rentannya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS. 

BACA JUGA:Airlangga: Stimulus Ekonomi Rp26,34 Triliun Didorong, Beri Efek Pengganda bagi Ekonomi

Dalam hal ini, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menuturkan bahwa dari sisi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar, angka Rp 17.500 per USD sendiri dinilai masih sangat optimis, dimana saat ini pun nilai tukar rupiah sudah direntang Rp 17.800-18.100 per USD.

"Jadi bisa dibilang, tidak ada kemungkinan rupiah kembali ke angka Rp 17.500 per USD. Angka yang kami proyeksikan adalah Rp 18.400 per USD, lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi saat ini," ujar Nailul kepada Disway, pada Selasa (18/08).

Lebih lanjut, Nailul juga menambahkan bahwa menurutnya, nilai tukar rupiah yang melemah ini disebabkan oleh faktor kepercayaan investor yang masih rendah dimana masih terjadi capital outflow apabila pengelolaan fiskal tidak prudent.

BACA JUGA:Pemkab Cirebon Peringati HUT ke-81 RI, Bupati Imron Ajak Perkuat Pembangunan

Selain itu, dari dalam negeri masih terjadi penurunan ketidakpercayaan dengan tingginya penukaran rupiah terhadap valuta asing, terutama Dolar US.

"Pengelolaan fiskal yang buruk bisa membuat yield SBN 10 tahun bisa lebih buruk mengingat kepercayaan investor bisa turun tajam," pungkas Nailul.

Di sisi lain, Ekonom CELIOS tersebut juga menambahkan bahwa dengan adanya pergerakan kenaikan suku bunga acuan bank sentral seperti US dan Jepang, hal tersebut sendiri sudah memulai rezim suku bunga positif. 

Selain itu, gejolak perang di Timur Tengah bisa menyebabkan perdagangan global akan terkoreksi.

BACA JUGA:Bukan Cuma Murah, Konsumen Indonesia Kini Cari Pengalaman Belanja Online Praktis dan Terpercaya

"Ancaman dari kenaikan harga minyak global juga meningkatkan dari sisi harga ICP yang mengetatkan APBN, serta distribusi barang secara global. Kondisi ini bisa menekan dari sisi konsumsi rumah tangga yang selama ini menyumbang lebih dari 50 persen dari pembentukan PDB nasional," pungkas Nailul.

Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan bahwa Rancangan APBN 2027 akan difokuskan pada delapan Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN).

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: