Al-Waqiah dan Manusia yang Tak Pernah Cukup

Al-Waqiah dan Manusia yang Tak Pernah Cukup

Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-Dok.Disway-

Mungkin kita perlu kembali belajar tentang qanaah—bukan berarti malas atau menerima kemiskinan tanpa usaha, melainkan kemampuan untuk merasa cukup setelah melakukan ikhtiar yang benar.

Sebab hidup bukan perlombaan untuk menjadi orang paling kaya.

Pada akhirnya, yang dibawa manusia bukan rumahnya, bukan mobilnya, bukan rekeningnya, bukan gelarnya, bahkan bukan jabatannya.

BACA JUGA:Penyeragaman Warna Kemasan dan Ilusi Keberhasilan Pengendalian Tembakau

Yang dibawa hanyalah amal.

Maka barangkali pertanyaan paling penting dari kehidupan modern bukanlah: “Berapa banyak yang sudah kita miliki?”

Melainkan: “Dengan cara apa semua itu kita peroleh?”

Sebab rezeki yang banyak belum tentu menjadi berkah. Jabatan yang tinggi belum tentu menjadi kemuliaan. Pendidikan yang tinggi belum tentu melahirkan kebijaksanaan.

Dan manusia yang setiap hari membaca Al-Waqiah pun tetap harus berhati-hati: jangan sampai lisannya mengingat akhirat, tetapi tangannya masih sibuk menggenggam sesuatu yang bukan haknya.

Barangkali itulah pelajaran paling sederhana dari surat yang berbicara tentang kenyataan besar kehidupan: kita boleh mengejar dunia, tetapi jangan sampai dunia membuat kita lupa bahwa suatu hari nanti kita akan meninggalkannya.

BACA JUGA:Survival Guide di Republik Caption

Rezeki dicari dengan ikhtiar. Kekayaan dijaga dengan kejujuran. Jabatan dijalankan sebagai amanah. Dan hidup dijalani dengan kesadaran bahwa pada akhirnya, semua akan kembali kepada Allah.

By Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: