Pak Bahlil Dengarkanlah, Jangan Gadaikan Keindahan Raja Ampat demi Tambang Nikel: Penguasa Berdosa Jika Rusak Ekologi!
Di tengah pesona alam Raja Ampat yang memikat, hadir sebuah entitas industri yang berupaya menyeimbangkan antara eksploitasi sumber daya dan pelestarian lingkungan. -Greenpeace Indonesia-
JAKARTA, DISWAY.ID -- Keindahan Raja Ampat kini terusik dengan aktivitas konsesi tambang nikel berdalih hilirisasi.
Surga dunia kebanggaan Indonesia di Piaynemo dan Wayag, yang bikin semua orang jatuh cinta, kini terancam dengan aktivitas tambang.
BACA JUGA:Raja Ampat Papua Terancam Hancur, Eksplorasi Nikel Hancurkan Ekosistem Darat dan Laut
BACA JUGA:Demokrat Resmi Usung Bupati Raja Ampat 2 Periode Abdul Faris di Pilgub Papua Barat Daya
Berdasarkan laporan Greenpeace Indonesia, keindahan itu diusik dengan aktivitas tambang nikel yang merambah Pulau Kawe, Pulau Gag, hingga Pulau manuran, perlahan merusak ekosistem laut dan darat.
Lubang-lubang tambang mengancam keanekaragaman hayati Raja Ampat. Kini, Raja Ampat ada di persimpangan jalan: mau tetap mempertahankan keindahan alamnya, atau harus jadi korban kerakusan tambang?
Sejarawan JJ Rizal angkat bicara soal ancaman kerusakan yang mengintai kawasan Raja Ampat, Papua Barat Daya. Menurut Sejarawan asal Depok ini, kegiatan oligarki industri nikel dan program hilirisasi tambang mengancam ekosistem dan budaya di dalamnya.
Rizal menyebut kerusakan yang mengintai Raja Ampat bukan hanya soal ekologi, tetapi juga soal sejarah.
"Dosanya dobel, karena selain merusak ekologi juga menghancurkan situs bersejarah,” ujar Rizal di X @JJRizal dikutip Senin 2 Juni 2025.
Kawasan Raja Ampat bukan hanya dikenal sebagai surga terakhir Indonesia karena keindahan alam dan kekayaan hayatinya. Pada masa lalu, wilayah ini juga menjadi basis perjuangan Pangeran Nuku, Pahlawan Nasional asal Tidore.
dosanya dobel krn selain merusak ekologi juga situs bersejarah tempat pahlawan nasional pangeran nuku bermarkas menjalankan perang gerilya bersama orang laut papua en menciptakan pasar rempah alternatif untuk mematikan kekuasaan belanda, sungguh kekuasaan jahanam https://t.co/xBCGEaifvU — JJ Rizal (@JJRizal) June 1, 2025
“Tempat itu adalah markas perang gerilya Pangeran Nuku bersama orang laut Papua," imbuhnya.
Rizal menyebut, masyarakat di Raja Ampat mereka membangun pasar rempah alternatif yang menjadi ancaman nyata bagi kekuasaan kolonial Belanda.
BACA JUGA:Komitmen Pelindo dan 11 BUMN Berkolaborasi Dukung Peningkatan Kesejahteraan Warga di Raja Ampat
Lebih lanjut, Rizal menyayangkan bahwa tanah yang menyimpan nilai ekologis dan historis setinggi itu kini berada di ujung tanduk karena keserakahan proyek-proyek industri yang disebutnya sebagai bentuk kekuasaan jahanam.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: