KSTI 2025 Dibuka, Menteri Brian dan Sri Mulyani: Peneliti Jadi Motor Penggerak Transformasi Teknologi RI
Dalam pidato pembukaannya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menekankan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan hanya strategi pembangunan, melainkan tanggung jawab moral generasi bangsa.--Kemendiktisaintek
JAKARTA, DISWAY.ID - Konvensi Sains dan Teknologi Indonesia (KSTI) 2025 resmi digelar hari ini oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Acara ini menjadi bagian penting dari peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-30 yang akan jatuh pada 10 Agustus mendatang.
Dihadiri oleh para tokoh penting dari kalangan pemerintah, akademisi, hingga industri, KSTI tahun ini mengusung semangat kolaborasi pentahelix: pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, industri, dan media.
Brian Yuliarto: Penguasaan Saintek adalah Tanggung Jawab Moral Bangsa
Dalam pidato pembukaannya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menekankan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan hanya strategi pembangunan, melainkan tanggung jawab moral generasi bangsa.
“Sains dan teknologi adalah kunci untuk pemerataan ekonomi. Ini tanggung jawab besar, bahwa penguasaan saintek adalah jalan kita untuk memajukan bangsa dan menghasilkan SDM unggul,” ujar Brian dalam sambutannya.
Brian juga mengajak para peneliti dan dosen untuk berkontribusi lebih dari sekadar publikasi, namun menghadirkan gagasan besar yang relevan bagi kebutuhan bangsa saat ini.
“Kita harapkan gagasan besar dari para peneliti, para dosen. Bukan hanya riset di atas kertas, tapi solusi nyata yang bisa mendorong transformasi,” tegasnya.
Sri Mulyani: Dunia Dikuasai Teknologi, RI Harus Siap Jadi Pelaku
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang juga hadir secara daring, memberikan pandangan strategis tentang pentingnya KSTI sebagai langkah tepat waktu (timely initiative) di tengah dominasi global oleh teknologi.
"IQ para peneliti, orang-orang pintar Indonesia, tidak kalah dengan negara lain. Dunia saat ini didominasi teknologi. Bahkan saham-saham utama di AS berbasis teknologi. Nilai tambah dan kesejahteraan datang dari sana,” ungkap Sri Mulyani.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh hanya jadi ajang perebutan pengaruh geopolitik, melainkan harus memilih menjadi pelaku aktif dalam persaingan global.
"Kita ini negara besar secara geografi dan lokasi. Pilihannya, mau jadi pelaku atau hanya jadi arena? Kalau mau jadi pelaku, kita yang harus bersiap. Elit intelektual punya tanggung jawab, bukan cuma jadi komentator,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: