Indonesia Swasembada Daging-Susu

Indonesia Swasembada Daging-Susu

Program ini memiliki fokus utama mempercepat swasembada. Tentu melalui kolaborasi: pemerintah, swasta dan peternak. -Dok. Disway-

Program ini mencakup sejumlah lokasi prioritas yang tersebar di seluruh Indonesia, yang dipilih berdasarkan potensi lahan dan ketersediaan sumber daya. 

Ada lebih dari 21 lokasi yang telah diidentifikasi sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk peternakan sapi. 

Lokasi yang Sudah Siap Antara Lain: (H-4)

  • Sulawesi Selatan: Kecamatan Giliren, Kecamatan Sajoanging, dan Kabupaten Gowa.
  • Sulawesi Tengah: Lembah Napu.
  • Kalimantan Timur: Sepaku.
  • Kalimantan Selatan: Awang Bangkal Timur dan Rantau Balai.
  • Jawa: Kabupaten Sumedang, Kabupaten Garut, Kabupaten Majalengka (Kertajati), Indramayu, Brebes, Blora, dan Blitar.
  • Sumatera Utara: Kabupaten Deli Serdang.
  • Nusa Tenggara: Sumba (NTT) dan Sumbawa (NTB).
  • Papua: Kabupaten Merauke (Papua Selatan). 

Untuk mendukung skala besar program ini, pemerintah mengalokasikan anggaran signifikan.

Kementerian Pertanian, melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), mendapatkan tambahan anggaran Rp2,13 triliun pada tahun 2025 yang difokuskan untuk peningkatan produksi daging dan susu. 

Anggaran ini akan digunakan untuk berbagai hal. Mulai dari impor sapi indukan, penyediaan pakan, fasilitas peternakan, hingga dukungan teknologi.

Lembaga Pendukung Program

Program sebesar ini tidak bisa berjalan tanpa kolaborasi lintas sektor. Ada beberapa lembaga yang mendukung penuh inisiatif ini. Yaitu:

  • Kementerian Pertanian (Kementan): Sebagai leading sector, Kementan berperan utama merancang, mengawasi, dan melaksanakan program ini. Bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan target tercapai.
  • Kementerian PPN/Bappenas: Menyusun peta jalan dan strategi jangka menengah hingga 2029. Juga memastikan program ini terintegrasi dengan rencana pembangunan nasional.
  • Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup: Memberikan dukungan dalam penyediaan lahan. Khususnya melalui program perhutanan sosial berbasis peternakan. Perum Perhutani telah mengidentifikasi lahan seluas 45 ribu hektar untuk penanaman hijauan pakan ternak.
  • PT Perkebunan Nusantara (PTPN): Menyediakan lahan di bawah pengelolaannya untuk pengembangan peternakan sapi.
  • Perusahaan Swasta dan Investor: Sejumlah Perusahaan domestik maupun asing. Contohnya, satu perusahaan dari Vietnam, TH Group, berencana membuka fasilitas peternakan di Indonesia. Selain itu, ada 141 perusahaan yang berkomitmen mendatangkan sapi perah dan 70 perusahaan yang berencana mengimpor sapi pedaging.
  • BUMN Peternakan dan Perkebunan: PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), PT Perkebunan Nusantara (PTPN), PT Berdikari (Persero). Mereka bertindak sebagai offtaker, penyedia teknologi, dan pembina peternak.
  • Kementerian Keuangan: Mengalokasikan anggaran APBN dan mengelola skema pembiayaan dan insentif perpajakan.
  • Perbankan: Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Mandiri yang menyediakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan skema pembiayaan lainnya untuk peternak.
  • Pemerintah Daerah: Menyediakan lahan, mengurus perizinan, dan memastikan program berjalan lancar di daerahnya.
  • Asosiasi Peternak: Seperti GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia) yang memastikan aspirasi peternak tersalurkan.
  • Lembaga Penelitian dan Pendidikan: Seperti IPB University, Universitas Gadjah Mada, dan Balai Penelitian Peternakan yang menyediakan inovasi teknologi dan sumber daya manusia unggul.

Strategis dari Sabang Sampai Merauke

Program ini dipusatkan di Kawasan Peternakan Berbasis Sumber Daya Lokal (KPB-SDL) yang telah ditetapkan pemerintah. Lokasinya tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.

Untuk Sapi Potong (Pedaging):

  • Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT): Sebagai sentra tradisional dengan iklim yang cocok.
  • Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY: Memiliki populasi tinggi dan infrastruktur pendukung yang sudah baik.
  • Sumatera Selatan dan Lampung: Memiliki lahan potensial untuk pengembangan pakan.
  • Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur: Memiliki lahan eks PLG yang sangat luas dan potensial.
  • Sulawesi Selatan: Sebagai lumbung pangan di Indonesia Timur.

Untuk Sapi Perah (Susu):

  • Jawa Barat (khususnya Lembang dan Pangalengan): Sentra susu tradisional dengan industri pengolahan yang sudah maju.
  • Jawa Timur (seperti Pasuruan): Memiliki peternakan sapi perah skala besar.
  • Sumatera Utara (di dataran tinggi Karo): Memiliki iklim yang sejuk cocok untuk sapi perah.
  • DI Yogyakarta (Sleman) dan Jawa Tengah (Boyolali, Semarang): Sentra susu yang telah mapan.

Selain itu, dikembangkan juga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Peternakan seperti di Pulau Galang, Kepulauan Riau. Tujuannya sebagai hub logistik dan processing untuk ekspor-impor terintegrasi.

Beberapa lokasi percontohan yang sudah berjalan dan menunjukkan kemajuan signifikan antara lain:

  • Pulau Galang, Kepulauan Riau: KEK Peternakan Galang telah resmi beroperasi, berfungsi sebagai pusat karantina, fattening (penggemukan), dan processing modern. Ribuan sapi impor telah melalui proses di sini sebelum didistribusikan ke berbagai daerah.
  • Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur: Telah membangun klaster-klaster peternakan sapi perah dan potong dengan sistem integrasi sawit-sapi yang sukses meningkatkan pendapatan peternak.
  • Kabupaten Sumbawa, NTB: Pengembangan sapi potong berbasis pasture (penggembalaan) yang memanfaatkan lahan luas dan tradisi beternak masyarakat yang kuat.
  • Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan: Pemanfaatan lahan eks-PLG untuk budidaya sapi potong skala besar dengan integrasi tanaman pakan.
  • Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah: Sentra sapi perah yang terus dikuatkan dengan perbaikan genetik dan pembangunan Unit Pengolahan Susu (UPS) untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah susu segar.

Kedaulatan Pangan Lewat Sapi

Pemerintah berencana mengimpor 1,5 juta sapi perah kelas premium. Produknya? Susu segar berkualitas yang akan memenuhi gelas-gelas anak sekolah.

Tapi impor bukan tujuan akhir. Justru pintu masuk. Pemerintah akan menodorng investasi peternakan. 

Nantinya peternak lokal diarahkan naik kelas. Mereka tidak sekedar jadi penonton. Tapi juga ikut berkecimpung.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads