Pilihan Childfree Gen Z dan Upaya Pemerintah Menjawab Kecemasan Anak Muda
Ilustrasi. Istilah childfree belakangan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial dan memunculkan pro dan kontra. -Istimewa-
Soal masa tua, ia pun tak sepenuhnya sejalan dengan pandangan tradisional yang menempatkan anak sebagai andalan di hari tua.
Ia merasa tanggung jawab hidup di hari tua seharusnya dipersiapkan sejak sekarang, bukan dibebankan kepada generasi berikutnya.
"Aku nggak merasa masa tuaku itu harus ditanggung anakku gitu. Lebih baik aku yang bekerja keras sekarang ketika aku masih bisa bekerja dan menabung untuk masa tua gitu," imbuhnya.
Saat ini, Riri masih mengandalkan jaminan pensiun seperti BPJS Ketenagakerjaan, sembari mulai menyusun rencana cadangan.
Di lain sisi, tim bisik Disway sudah berusaha mengubungi Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Wihaji, namun tidak ada jawaban.
Berdasarkan catatan tim Bisik Disway, Menteri Wihaji pernah bilang, ada sekitar 71 ribu perempuan Indonesia yang menginginkan menikah namun tidak ingin memiliki anak.
"Ini memang bagian dari isu yang kita perhatikan bahwa 71 ribu perempuan Indonesia menginginkan childfree. Apa itu childfree, pingin menikah, tapi tidak pingin punya anak," kata Wihaji di Bengkulu.
Menurut Wihaji, setidaknya ada tiga faktor utama yang mendorong kecenderungan tersebut, yakni kecemasan psikologis, kecemasan ekonomi, serta kekhawatiran fisik atau kesehatan di kalangan anak muda.
"Tentu, tiga kecemasan ini harus saya jawab," tuturnya.
Sebagai respons, pemerintah menyiapkan program Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak) yang ditujukan untuk membantu keluarga muda, khususnya pasangan bekerja yang khawatir kehilangan karier setelah memiliki anak.
"Mereka yang takut berhenti kerja ketika punya anak, kami siapkan tempat penitipan anak. Yang tidak bisa mengasuh anak, kami siapkan tempat mengasuh anak," jelas Wihaji.
Wihaji menegaskan, negara hadir untuk mendampingi masyarakat dalam menghadapi tantangan zaman.
Meski demikian, Wihaji menekankan bahwa pilihan childfree tetap merupakan hak pribadi setiap individu.
"Saya sebagai manusia menghormati pilihan childfree. Sebagai menteri, harapan saya, ayo kita jalani kehidupan dengan berbagai dinamikanya. Insya Allah akan baik-baik saja," ungkapnya.
Pilihan childfree di kalangan Gen Z pun mencerminkan perubahan cara pandang terhadap keluarga dan masa depan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: