PPIH 2026 Gelar Strategi di Atas Maket untuk Kelancaran Layanan Jemaah Haji

PPIH 2026 Gelar Strategi di Atas Maket untuk Kelancaran Layanan Jemaah Haji

Letkol Inf Surnadi menyampaikan penjelasan kepada PPIH Arab Saudi 2026 dalam Diklat di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Jumat (23/1/2026).-disway-

BACA JUGA:99 Persen Jemaah Indonesia Pilih Haji Tamattu, Bagaimana dengan Petugas?

Petugas dituntut sigap sejak jemaah menginjakkan kaki di tanah suci, mulai dari pengecekan kesehatan hingga pendampingan lansia.

"Ada Tusi (Layanan tugas dan fungsi) lansia, ada yang membimbing, membantu membawa barang, hingga urusan akomodasi dan katering. Semua harus sesuai fungsinya masing-masing," tambahnya, yang disambut jawaban serempak "Siap!" oleh para peserta.

Salah satu tantangan terbesar yang disoroti adalah koordinasi di fase Armuzna. Berdasarkan evaluasi tahun-tahun sebelumnya, kendala sering muncul akibat disorientasi lokasi, baik oleh petugas maupun pengemudi bus di Arab Saudi.

BACA JUGA:Menjaga 'Rel' Ibadah, Strategi Besar Kemenhaj di Balik Operasional Haji 2026

"Pengalaman tahun lalu, ada sopir yang tidak tahu koordinat dan jalan, sehingga jemaah diturunkan di mana saja. Otomatis kita (PPIH) harus mencari-cari," ungkap Surnadi.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, melalui simulasi TFG ini, setiap titik koordinat maktab (tenda jemaah) ditentukan secara presisi.

Petugas yang mengenakan seragam PPIH akan ditempatkan di setiap sisi sektor untuk menjemput dan mengarahkan bus tepat ke lokasi tujuan.


Letkol Inf Surnadi seusai menjadi pembicara Diklat PPIH Arab Saudi 2026 di Pondok Gede-Mch-

"Begitu bus mendarat di Arafah, petugas di lapangan yang sudah siaga langsung mengarahkan. Maktab di mana? Petugas mengarahkan busnya ke sana. Jadi jemaah tidak terlantar," tegasnya.

Selain teknis operasional, Letkol Surnardi juga mengingatkan bahwa menjadi PPIH adalah bentuk pengabdian tertinggi.

BACA JUGA:Efisiensi Anggaran, Wamenhaj Ungkap Biaya Katering Haji 2026

Setelah fase melelahkan di Armuzna, petugas tetap memiliki tanggung jawab pada fase kepulangan (Pasca-Armuzna), termasuk memastikan pergerakan jemaah kembali ke Madinah atau menuju bandara kepulangan berjalan lancar.

"Masalah haji mabrur itu urusan Allah, yang penting kita bertugas melayani hamba Allah. Pahala pelayanannya itu luar biasa. Kita harus bisa kolaborasi di lapangan," ucap Surnadi.

Metode TFG ini diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga kesiapan mental petugas PPIH 2026 dalam menghadapi dinamika lapangan yang kompleks, demi memberikan rasa aman bagi ribuan jemaah haji Indonesia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: