Hobi Makan Kikil? Ternyata Kaya Kolagen, Ini Batasan Konsumsi Menurut Ahli Gizi
Kikil atau tunjang kerap dikenal sebagai makanan yang kaya kolagen.--Freepik
Meski kaya kolagen, ia menjelaskan bahwa tubuh tidak dapat menyerap kolagen dari makanan dalam bentuk utuh. Kolagen harus dipecah terlebih dahulu menjadi peptida agar dapat diserap melalui usus.
“Peptida hasil pemecahan kolagen ini kemudian digunakan tubuh sebagai bahan penyusun protein, misalnya untuk membantu pembentukan kulit, rambut, dan kuku,” jelasnya.
BACA JUGA:MBG Perkuat Gizi dan Pendidikan Karakter, 49 Juta Siswa Sudah Terjangkau
Manfaat Kolagen
Kolagen sendiri diketahui memiliki berbagai manfaat bagi tubuh, antara lain membantu menjaga elastisitas kulit, memperkuat tulang dan sendi, serta mendukung kesehatan rambut dan kuku.
Selain itu, kolagen juga berpotensi membantu mempercepat penyembuhan luka dan menjaga kesehatan jaringan tubuh.
Ia juga mengingatkan bahwa kikil juga mengandung purin yang dapat diolah tubuh menjadi asam urat serta kolesterol sekitar 79 mg per 100 gram. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan daging sapi yang berkisar 65–90 mg, namun tetap perlu diperhatikan.
BACA JUGA:Kampanye Batasi GGL dan Edukasi Gizi Kunci Cegah Obesitas Masyarakat
“Kikil mengandung kolesterol dan purin dalam jumlah sedang, sehingga konsumsinya sebaiknya dibatasi, terutama bagi orang dewasa, penderita asam urat, atau mereka yang memiliki riwayat penyakit metabolik,” ujarnya.
Ia menyarankan satu porsi kikil sekitar 75 gram dalam sekali makan. Selain itu, cara pengolahan juga perlu diperhatikan agar kandungan lemak, kolesterol, dan kalori tidak meningkat.
“Jika dikonsumsi dalam jumlah kecil dan diolah dengan cara yang lebih sehat, seperti direbus menjadi sop, soto, atau campuran bakso tanpa santan dan minyak berlebih, kikil masih aman untuk dinikmati sesekali,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: