Neraca Perdagangan Surplus 1,27 Miliar Dollar AS, Manufaktur dan Barang Modal Jadi Motor Utama

Neraca Perdagangan Surplus 1,27 Miliar Dollar AS, Manufaktur dan Barang Modal Jadi Motor Utama

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono.-Kanal YouTube Resmi Badan Pusat Statistik-

JAKARTA, DISWAY.ID– Di tengah eskalasi konflik geopolitik global yang kian memanas, performa perdagangan luar negeri Indonesia menunjukkan resiliensi yang signifikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar 1,27 miliar dollar AS.

Capaian positif ini ditopang oleh kinerja ekspor yang mencapai 22,17 miliar dollar AS, sementara nilai impor tercatat sebesar 20,89 miliar dollar AS.

BACA JUGA:Abdul Mu’ti Sebut Pendidikan Senjata Utama Berdayakan Perempuan

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebutkan bahwa nilai ekspor produk nasional tumbuh 1,01 persen secara tahunan (year-on-year/y-o-y).

"Peningkatan nilai ekspor ini didominasi oleh sektor nonmigas, terutama komoditas lemak dan minyak hewan/nabati, nikel beserta produk turunannya, hingga mesin dan perlengkapan elektrik," ujar Ateng dalam paparan daring di Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Salah satu poin krusial dalam laporan BPS kali ini adalah performa sektor manufaktur. Ekspor industri pengolahan pada Februari 2026 tercatat naik 5,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sektor ini memberikan andil peningkatan sebesar 4,21 persen terhadap total ekspor nasional, menandakan hilirisasi industri mulai memberikan dampak instrumen ekonomi yang stabil.

Di sisi lain, total impor Indonesia juga mengalami kenaikan tahunan sebesar 10,85 persen. Menariknya, kenaikan ini dipacu oleh impor barang modal yang melonjak hingga 33,68 persen (y-o-y). 

BACA JUGA:Daftar Sektor Pekerjaan yang Dikecualikan WFH, Jasa hingga Perbankan

Dalam perspektif ekonomi makro, kenaikan impor barang modal sering kali dipandang sebagai sinyal positif.

Hal ini mengindikasikan adanya ekspansi kapasitas produksi dan peningkatan investasi di dalam negeri, yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal-kuartal berikutnya.

"Andil peningkatan dari impor barang modal mencapai 6,16 persen, mencerminkan aktivitas sektor produktif yang tetap bergeliat di tengah ketidakpastian global," pungkas Ateng.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: