Studi Global: 2 dari 5 orang dengan Penyakit Kardiovaskular Lebih Berisiko Serangan Jantung dan Stroke

Jumat 26-06-2026,18:53 WIB
Reporter: |
Studi Global: 2 dari 5 orang dengan Penyakit Kardiovaskular Lebih Berisiko Serangan Jantung dan Stroke

Ilustrasi penyakit kardiovaskular. Studi POSEIDON yang melibatkan 18.904 pasien di 18 negara menemukan dua dari lima pasien penyakit jantung masih memiliki inflamasi yang meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.--

Profesor Carolyn S.P. Lam, Senior Consultant Department of Cardiology National Heart Centre Singapore sekaligus Profesor pada Duke-NUS Medical School, menilai hasil studi tersebut mengubah cara pandang terhadap risiko penyakit jantung.

"Studi POSEIDON yang dilakukan Novo Nordisk menunjukkan dengan jelas bahwa inflamasi bukanlah isu sekunder, melainkan faktor utama yang mendorong peningkatan risiko pada jutaan pasien penyakit kardiovaskular di seluruh dunia yang masih rentan mengalami komplikasi meskipun telah menerima terapi terbaik yang tersedia saat ini," ujarnya.

Menurut Carolyn, konsistensi temuan inflamasi pada berbagai kelompok pasien membuka peluang pendekatan yang lebih tepat dalam mengidentifikasi pasien yang berpotensi memperoleh manfaat dari terapi yang secara khusus menargetkan inflamasi.

"Temuan ini juga mengubah cara kita memandang risiko kardiovaskular residual, serta menegaskan potensi terapi antiinflamasi yang sedang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan medis yang belum terpenuhi," lanjutnya.

BACA JUGA:5 Alasan Pasien Jantung Perlu Penanganan Tim Dokter Multidisiplin

Di Indonesia, tantangan penyakit kardiovaskular juga tidak bisa dianggap ringan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, penyakit kardiovaskular seperti stroke dan penyakit jantung iskemik masih menjadi penyebab utama kematian dengan kontribusi sekitar 30 persen dari seluruh angka kematian nasional.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya pencegahan dan pengelolaan penyakit jantung secara lebih komprehensif, termasuk memperhatikan faktor inflamasi yang selama ini belum banyak menjadi perhatian.

Sejalan dengan berkembangnya bukti ilmiah tersebut, berbagai organisasi internasional seperti European Society of Cardiology (ESC), American Heart Association (AHA), dan American College of Cardiology (ACC) kini juga telah memasukkan peningkatan kadar hsCRP sebagai biomarker yang dapat membantu penilaian risiko penyakit kardiovaskular dan menentukan strategi pencegahan yang lebih intensif.

Novo Nordisk menyatakan akan terus mendorong penelitian dan inovasi untuk meningkatkan pemahaman mengenai berbagai faktor risiko penyakit kardiometabolik, sehingga pasien dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat, komprehensif, dan berkelanjutan.(*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait