Tanggapi Kasus Anak Tega Bunuh Keluarganya di Magelang, Kriminolog: Norma Acuan Hidupnya Sudah Hilang!

Tanggapi Kasus Anak Tega Bunuh Keluarganya di Magelang, Kriminolog: Norma Acuan Hidupnya Sudah Hilang!

Ilustrasi -Kindel Media-Pexels.com

JAKARTA, DISWAY.ID-- Satu keluarga ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di rumahnya daerah Mertoyudan Magelang Jawa Tengah pada Senin (28/11).

Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak tersebut meninggal akibat keracunan. Setelah diselidiki, pelaku pembunuhan adalah anak kedua dari keluarga tersebut yang berinisial DDS.

BACA JUGA:Toyota bZ4X Ternyata Lebih Cocok di Daerah Tropis, Toyota Ungkap Faktanya

BACA JUGA:New Xpander Cross Punya Harga Jual Kembali Tinggi, Konsumen: Ini Mobil Trendsetter!

DDS telah mengakui perbuatannya pada pihak kepolisian dan saat ini telah diamankan. Fakta ini mengejutkan pihak keluarga besar dan juga tetangga, karena selama ini keluarga DDS dikenal harmonis dan rukun.

Bahkan Kepala Desa Mertoyudan, Eko Sungkono mengakui bahwa DDS adalah anak yang pendiam dan aktif di lingkungan rumah. Oleh karena itu, ia tidak menyangka DDS tega membunuh keluarganya.

BACA JUGA:Rahasia Buku Mantra di Misteri Tewasnya Satu Keluarga di Kalideres, Polisi Minta Bantuan Sosiolog

BACA JUGA:Tabir Kematian Keluarga di Kalideres Mulai Tersingkap, Polisi Ungkap Temuan Baru

Setelah ditangkap, DDS mengaku motifnya adalah sakit hati karena beban ekonomi yang diberikan padanya setelah ayahnya yang berinisial AA (58) pensiun dari Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan.

DDS belum bekerja, kakaknya yang berinisial DC merupakan karyawan kontrak dan tidak diberikan beban yang sama. Sedangkan, AA ayah pelaku merupakan pensiunan sejak Oktober 2022 lalu dan HR (54) ibu pelaku merupakan ibu rumah tangga.

BACA JUGA:Bharada E Lihat Wanita Menangis di Rumah Ferdy Sambo Satu Bulan Sebelum Penembakan

BACA JUGA:Misteri Ritual Dalam Kasus Tewasnya Satu Keluarga di Kalideres, Polisi: Upaya Atas Masalah Keluarga

Plt Kapolresta Magelang AKBP Mochammad Sajarod Zakun mengatakan bahwa motif pelaku sakit hati, karena tanggung jawab ekonomi diberikan pada pelaku. Sedangkan kebutuhan rumah tangga tinggi dan harus menanggung orangtua yang sedang sakit.

“Muncul niat menghabisi orangtua dan kakak kandung, sakit hati karena diberi beban biaya keluarga sehari-hari dan biaya berobat orangtua,” papar Sajarod.

Sumber: