Harga Narkoba Selangit, Bali Jadi Target Sindikat Internasional

Harga Narkoba Selangit, Bali Jadi Target Sindikat Internasional

Tingginya nilai jual tersebut membuat Bali menjadi sasaran empuk peredaran narkoba. Jaringan yang terlibat pun tidak lagi berskala kecil atau lokal.-Istimewa-

BALI, DISWAY.ID-- Tingginya harga jual narkotika di Bali menjadi tempat menggiurkan bagi jaringan nasional hingga internasional. Harga jual yang tinggi tersebut membuat Pulau Seribu Pura ini menjadi magnet utama bagi sindikat lintas wilayah untuk berebut pasar.

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bali, Brigjen Pol Budi Sajidin, mengungkapkan harga narkotika di Bali bisa melonjak berkali-kali lipat dibandingkan negara asalnya. 

BACA JUGA:Tak Menutup Diri, Lapas Cipinang Gandeng Polri Usut Dugaan Penyelundupan Vape Etomidate

BACA JUGA:Dirut Bulog dan Menko Pangan Melaunching Serapan Gabah di Maros Sulsel, Topang Target 4 Juta Ton Setara Beras 2026

Hal itu disampaikannya dalam Rapat Koordinasi Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) Wilayah Provinsi Bali Tahun 2026, Kamis (5/2/2026), di Kantor Gubernur Provinsi Bali.

“Di luar negeri itu cuma sekitar Rp100 ribu per gram. Masuk Indonesia bisa Rp1,5 juta, diecer jadi Rp3 juta,” ungkapnya.

Tak hanya itu, harga ekstasi di Bali juga tergolong tinggi dan disebut mencapai Rp800 ribu per butir.

Menurut Budi, tingginya nilai jual tersebut membuat Bali menjadi sasaran empuk peredaran narkoba. Jaringan yang terlibat pun tidak lagi berskala kecil atau lokal.

BACA JUGA:10 Promo Makanan dan Minuman Spesial Akhir Pekan, Sambut Valentine Ada Diskon HokBen, Gokana, hingga Chatime

BACA JUGA:XPENG Indonesia Pamerkan AI Canggih dan Visi Mobilitas Masa Depan di IIMS 2026

“Jaringannya ada nasional, internasional, dan regional. Dari Kalimantan masuk, dari Medan masuk, bahkan jaringan luar negeri,” jelasnya.

Data pengungkapan kasus narkoba sepanjang 2025 menunjukkan tingginya aktivitas peredaran di wilayah dengan perputaran ekonomi besar. Denpasar tercatat sebagai wilayah dengan kasus tertinggi mencapai 571 kasus.

Di posisi berikutnya terdapat Badung dengan 114 kasus, disusul Buleleng sebanyak 98 kasus, Tabanan 49 kasus, dan Gianyar 42 kasus.

BNNP Bali menilai kawasan wisata dan pusat ekonomi menjadi titik panas peredaran narkotika karena tingginya daya beli serta mobilitas masyarakat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads